Tautan-tautan Akses

Bentrokan di Papua, 4 Tewas


Protes para aktivis Papua (Foto: dok.)

Protes para aktivis Papua (Foto: dok.)

Bentrokan antara militer dan penduduk lokal menyebabkan empat orang tewas di Papua, Indonesia, menurut keterangan polisi hari Selasa (9/12).

Menurut sebuah sumber di Papua, sampai saat ini empat jenazah korban yang tewas dalam penembakan di Paniai, Enarotali masih dibaringkan di lapangan.

Sepuluh orang lainnya luka-luka dalam bentrokan tersebut, yang terjadi pada hari Senin (8/12) di Enarotali, ibukota distrik Paniai, kata kepala polisi setempat Mayjen Yotje Mende.

Empat orang, termasuk tiga anak SMA, tewas dalam tembakan yang dilepaskan dalam bentrokan tersebut, tapi tidak jelas siapa yang melepaskan tembakan tersebut, ujar Mende, sambil menambahkan bahwa pihaknya sedang melakukan investigasi.

Insiden tersebut dipicu oleh bentrokan sebelumnya yang terjadi pada Minggu malam antara sekelompok tentara dan anak muda setempat. Bentrokan tersebut pecah ketika para pemuda memperingatkan seorang tentara yang mengendarai motor tanpa lampu, ujar juru bicara polisi Papua, Kolonel Sulistyo Pudjo.

Kejadian tersebut menyulut penyerangan terhadap militer dan kantor polisi di wilayah tersebut oleh para pemuda dan mereka juga membakar kantor pemilihan setempat hari Senin dini hari, ujarnya.

Sementara menurut saksi mata Okto Pogau insiden bermula dari unjuk rasa masyarakat yang memprotes penganiayaan anak usia 12 tahun oleh dua aparat TNI, anggota Batalyon Infanteri 753 Nabire pada Minggu malam.Esok harinya, sebelum insiden penembakan ini terjadi, masa melakukan pembakaran terhadap mobil Fortuner yang diduga dipergunakan oleh aparat TNI yang melakukan penganiayaan itu.

Unjuk rasa ini dilakukan di lapangan Karel Gobai dan menurut Okto Pogau:

“Ada satu kebiasaan masyarakat di Paniai, mereka itu sering berkumpul, mereka akan datang ke pos polisi atau koramil untuk menanyakan kenapa ada anggota yang bisa melakukan pemukulan,” paparnya.

Saat mereka berkumpul ada 300 orang dan jarak dari lapangan Karel Gobai ke pos polsek dan koramil jaraknya sekitar 50 meter. Pada sekitar pukul 10 WIT, terjadi penembakan secara membabi buta kearah kerumunan masa ini, dan diduga penembakan ini dilakukan oleh aparat gabungan polisi dan TNI.

Ada empat orang yang meninggal ditempat. Pertama adalah Alfius Youw 17 tahun, Yulian Yelmo, 17 tahun, Simon Degei 18 tahun, Otianus Gobai, 17 tahun, dan Abia Gobai, 28 tahun seorang petani. Selain itu 17 orang masih dirawat di Rumah Sakit, beberapa diantara mereka cedera parah.

Banyak dari yang luka-luka, menurut Okto, memilih berobat di rumah.

“Yang luka-luka memilih berobat dirumah karena takut kerumah sakit nanti ada apa-apa.”

Yang mengenaskan adalah nasib jenazah dari yang tewas ini masih tidak menentu.

“Sampai saat ini, empat jenazah itu masih dibaringkan dilapangan, kemudian warga meminta sebetulnya ada dua, yang pertama meminta pertanggungjawaban dari TNI maupun Polri, dan yang kedua mereka meminta Kapolda Papua dan Pangdam Cenderawasih harus datang ke Paniai dan melihat.”

Oleh Okto Pogau juga dikeluhkan bahwa kebanyakan kasus pelanggaran HAM seperti ini tidak pernah mendapat penyelesaian hukum yang wajar.

Papua, bekas koloni Belanda di bagian barat pulau Papua Nugini, bergabung dengan Indonesia pada tahun 1969.

(AP / Jimmy Manan).

XS
SM
MD
LG