Tautan-tautan Akses

Bencana akibat Manusia, Bukan Alam, Alasan Utama Pengungsian Penduduk

  • Lisa Schlein

Banjir di Srinagar, India, September lalu.

Banjir di Srinagar, India, September lalu.

Sebuah laporan baru menyalahkan faktor manusia yang menyebabkan sebagian besar perpindahan penduduk yang terkait dengan bencana.

Internal Displacement Monitoring Center of Norwegian Refugee Council melaporkan lebih dari 19,3 juta orang di 100 negara terpaksa mengungsi pada tahun 2014 karena bencana alam, seperti banjir, badai dan gempa bumi.

Badan Pengungsi Norwegia Internal Displacement Monitoring Center melaporkan rata-rata 22,5 juta orang mengungsi akibat bencana terkait iklim atau cuaca setiap tahun sejak tahun 2008. Dari jumlah itu, 87 persen terdapat di Asia, yang merupakan tempat tinggal bagi 60 persen penduduk dunia.

Penduduk di China, India dan Filipina adalah yang paling parah terkena dampak itu. Pada tahun 2014, menurut laporan tersebut, Eropa mengalami dua kali lipat tingkat rata-rata perpindahan penduduk selama tujuh tahun ini, tapi perpindahan di Afrika, tiga kali lebih rendah dari rata-rata.

Tetapi dibandingkan dengan besarnya populasi mereka , menurut laporan itu, banyak negara Afrika, seperti Sudan, mengalami perpindahan penduduk akibat bencana pada tingkat yang tinggi karena bencana. Laporan tersebut mengatakan, perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana alam.

Perkembangan ekonomi yang pesat, urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di daerah-daerah yang rawan merupakan faktor buatan manusia yang mendorong meningkatnya perpindahan akibat bencana.

Direktur Pusat Internal Displacement Monitoring Alfredo Zamudio mengatakan, kemungkinan orang menjadi pengungsi akibat bencana saat ini 60 persen lebih tinggi dari empat dekade yang lalu. :

"Laporan kami menunjukkan bahwa bukan bahaya itu sendiri yang menentukan kehancuran yang ditimbulkannya, Sebenarnya tapi banyak di antaranya didorong oleh faktor buatan manusia. Memang sebagian besar perpindahan terkait dengan dampak buruknya iklim atau cuaca," ujar Zamudio.

Direktur Jenderal Internal Displacement Minitoring Center, William Lacy Swing mengatakan kepada VOA, dampak migrasi terpaksa karena adanya perubahan iklim akan memperburuk situasi yang sudah parah.

"Banyak orang berpindah sekarang dibanding dengan waktu lain yang tercatat dalam sejarah, sekitar satu miliar dari tujuh miliar yang ada sekarang, seperempatnya melintasi perbatasan dan tiga perempatnya berpindah-pindah di dalam negeri mereka sendiri," kata Lacy. "Persentase dari mereka yang terpaksa bermigrasi juga belum pernah terjadi sebelumnya."

Para penulis laporan mengatakan langkah-langkah pencegahan, seperti pembangunan gedung-gedung yang tahan gempa bumi, atau sistem peringatan dini untuk memberitahu masyarakat mengenai datangnya badai atau banjir dapat mengurangi resiko bahaya bencana alam dan mencegah dampaknya yang tragis kemudian.

XS
SM
MD
LG