Tautan-tautan Akses

AS

Belum Ditemukan Petunjuk Bagaimana Penembak San Bernardino Jadi Radikal


Foto bertanggal 27 Juli 2014 ini menunjukkan Tashfeen Malik, (kiri) dan Syed Farook saat berada di depan petugas Bea Cukai dan Pelindungan Perbatasan AS, di bandara Internasional O'Hare di Chicago (Foto: dok).

Foto bertanggal 27 Juli 2014 ini menunjukkan Tashfeen Malik, (kiri) dan Syed Farook saat berada di depan petugas Bea Cukai dan Pelindungan Perbatasan AS, di bandara Internasional O'Hare di Chicago (Foto: dok).

Pihak berwenang AS sedang mencari petunjuk untuk mengetahui bagaimana tersangka penembak dalam serangan teroris di San Bernardino, California pekan lalu menjadi radikal.

Sejauh ini, penggeledahan barang-barang pribadi, ponsel, komputer milik Tashfeen Malik dan Syed Farook tidak mengungkapkan hubungan langsung antara pasangan ini dengan kelompok-kelompok teroris.

Para pejabat FBI mengatakan pasangan suami kelahiran AS dan istri kelahiran Pakistan itu sudah menjadi radikal beberapa lama, namun mereka tidak dapat memastikan asal-usul radikalisasi mereka.

"Kami tahu mereka berbicara lewat telepon dengan orang-orang di sini di Amerika Serikat. Saya belum mengetahui semua koneksi luar negeri. Kami sedang bekerja sama dengan mitra-mitra kami di luar negeri mengenai hal itu," demkian kata David Bowdich, pejabat FBI di kantor Los Angeles.

Menurut saudara perempuan Farook, Saira Khan, tidak ada kerabatnya yang menduga apapun.

"Saya merasa dia seperti memiliki kehidupan ganda. Saya rasa dia sangat pandai menyembunyikan segala sesuatu dari kami semua."

Di Karor Lal Esan, kota asal Tashfeen Malik di provinsi Punjab, Pakistan selatan, bekas tetangganya terkejut dia dituduh berperan dalam serangan teror di California. Mereka mengatakan keluarga Malik telah lama berpindah ke Arab Saudi.

Tashfeen Malik kemudian kembali ke Pakistan untuk belajar farmasi di sebuah madrasah di pusat kota Multan. Pejabat sekolah itu mengatakan ia adalah seorang mahasiswa yang baik dan sepengetahuan mereka tidak terlibat dalam kegiatan ekstra kurikuler. Mereka menegaskan bahwa tidak ada mahasiswa mereka yang terlibat dalam ekstremisme.

"Ini adalah pengecualian dan atas nama staf pengajar, kami pasti akan mengutuknya. Jika ada orang yang terlibat dalam insiden apapun seperti itu, maka itu tidak terpuji tapi justru terkutuk," kata Babar Haqan dari Universitas Bahauddin Zakarya di Multan.

Penyidik juga menyelidiki kemungkinan Tashfeen Malik menjadi radikal ketika tinggal di Arab Saudi, di mana ia bertemu dan bertunangan dengan Syed Farook tahun lalu.

"Tidak mengherankan bahwa seorang perempuan akan lebih radikal dari suaminya dalam situasi ini. Terorisme tidak mengenal jenis kelamin. Kekerasan bukan milik jenis kelamin tertentu,” kata Nada Bakos, mantan analis CIA.

Pasangan yang tewas dalam tembak menembak dengan polisi tidak lama setelah penembakan massal di sebuah pusat layanan warga difabel di San Bernardino itu meninggalkan seorang bayi berumur enam bulan. Keluarga Farook meminta hak asuh bayi perempuan itu, yang kini dalam perawatan Dinas Perlindungan Anak setempat.

Sementara itu, sehari setelah Presiden AS Barack Obama mengatakan perang melawan kelompok militan Negara Islam tidak boleh didefinisikan sebagai perang antara Amerika dan Islam, Gedung Putih memperkuat pesan tersebut, seraya mendesak warga Muslim di Amerika Serikat agar melakukan bagian mereka.

Para politisi Partai Republik, termasuk sejumlah calon presiden telah mengecam pidato tentang penanggulangan terorisme oleh Presiden Obama itu dan menyebutnya mengecewakan, kurang urgensi dan tidak menawarkan langkah-langkah baru untuk melawan ancaman ISIS. Yang lainnya mengejek presiden karena tidak menggunakan istilah terorisme Islam radikal ketika menggambarkan serangan di San Bernardino itu.

Calon presiden dari Partai Republik Donald Trump Senin malam mengeluarkan pernyataan yang menyerukan “penutupan pintu masuk ke Amerika bagi Muslim sampai para pemimpin di negara ini bisa memahami apa yang sedang terjadi.”

Gedung Putih hari Senin membalas kritikan itu dengan menyebutnya memecah belah, retorika politik yang bertujuan untuk mendongkrak popularitas dalam kampanye. Juru bicara Josh Earnest mengatakan pidato itu bertujuan untuk menjawab kekawatiran rakyat Amerika terkait terorisme dan bukan untuk memuaskan lawan politik presiden. [as/lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG