Tautan-tautan Akses

Belanja Infrastruktur di Indonesia Naik Setelah Tertunda Lama


Konstruksi jalur MRT di Jakarta.

Konstruksi jalur MRT di Jakarta.

Birokrasi dan kurangnya koordinasi kebijakan telah menghambat belanja modal dalam tujuh bulan pertama tahun ini.

Pengeluaran infrastruktur di Indonesia mulai naik setelah tertunda sekian lama, membuka jalan bagi rencana Presiden Joko Widodo untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan membangun jalan, pelabuhan dan jembatan baru.

Dalam beberapa minggu terakhir, pemerintah telah mempercepat belanja modal, mendorong lonjakan penjualan semen dan barang modal serta bahan baku impor.

Hal itu membantu mendukung saham perusahaan konstruksi Adhi Karya Tbk, produsen semen Semen Indonesia dan perusahaan-perusahaan terkait infrastruktur lainnya.

Sektor industri dasar tersebut, yang mencakup pasokan bahan bangunan, telah naik 3,6 persen dalam satu bulan terakhir, menyalip kinerja indeks saham gabungan, yang telah jatuh 2,9 persen dalam periode yang sama.

Birokrasi dan kurangnya koordinasi kebijakan telah menghambat belanja modal dalam tujuh bulan pertama tahun ini, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang jatuh ke titik paling lambat sejak 2009.

Sampai dengan Juli, pemerintah baru menghabiskan 14 persen dari anggaran belanja Rp 276 triliun untuk tahun ini.

Angka itu naik ke 25 persen bulan Agustus, hampir dua kali lipat anggaran belanja dalam hanya satu bulan tapi masih jauh dari sasaran tahun ini dengan sisa waktu kurang dari empat bulan lagi.

Penjualan semen tahunan kemungkinan naik 15 persen bulan Agustus, kenaikan pertama sejak Januari, menurut Citi Research dalam catatan risetnya.

Penjualan yang lebih kuat telah membantu mendongkrak saham produsen semen terbesar di negara ini, Semen Indonesia, menjadi lebih dari 30 persen setelah mencapai titik terendah dalam enam tahun terakhir bulan lalu.

Adhi Karya, yang sahamnya melonjak 21 persen dalam satu bulan terakhir, mulai membangun proyek transit kereta ringan awal bulan ini dan telah menandatangani kontrak-kontrak konstruksi senilai Rp 7,8 triliun sejauh ini tahun ini.

"Kenaikan dalam pencairan anggaran mulai terlihat, mencerminkan peningkatan jumlah kontrak yang diperoleh perusahaan," ujar Ki Syahgolang Permata, sekretaris perusahaan, kepada kantor berita Reuters.

Presiden Joko Widodo, yang telah memprioritaskan pembangunan infrastruktur dalam rencana ekonominya, hari Senin (21/9) mendesak perusahaan-perusahaan untuk tidak menunda proyek-proyek infrastruktur lebih lama.

"Kita ketinggalan jauh dibandingkan kota-kota besar lainnya di dunia. Kita seharusnya tidak terlambat membuat keputusan," ujar Presiden dalam acara peluncuran tahap berikutnya dari proyek kereta cepat senilai US$1,5 miliar di Jakarta. [hd/eis]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG