Tautan-tautan Akses

Belajar Masak di Culture Kitchen di San Fransisco


Tidak peduli masakan dari negara mana di dunia ini, mengajar memasak secara langsung selalu lebih berhasil (foto, dok.).

Tidak peduli masakan dari negara mana di dunia ini, mengajar memasak secara langsung selalu lebih berhasil (foto, dok.).

Sekolah masak Culture Kitchen di San Fransisco mencoba menghidupkan kembali seni memasak dengan peragaan langsung.

Kalau kita ingin belajar membuat lumpia Vietnam, kita selalu bisa membacanya di buku masak. Tetapi, Lin Nguyen yang mengajar masak di San Fransisco mengatakan bahwa cara membuat lumpia tidak seperti itu. Keluarganya bahkan tidak punya buku masak.

"Dalam rumah tangga orang Vietnam tidak ada sendok ataupun cangkir-cangkir pengukur. Segalanya dilakukan dengan telapak tangan atau mangkok, dan resep masakan diwariskan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya,” paparnya.

Nguyen mengajar teknik seperti itu di Culture Kitchen atau Dapur Budaya, sebuah perusahaan yang mempekerjakan imigran generasi pertama sebagai guru-guru masak. Nguyen pindah ke Amerika semasa kanak-kanak pada dekade 1980-an dan belajar memasak dari ibu dan bibi-bibinya. Tidak seperti keluarga Nguyen, para guru di Culture Kitchen itu menyusun catatan resep-resep masakan itu.

Mereka juga memusatkan perhatian pada tradisi komunikasi langsung untuk memeragakan bagaimana seharusnya rasa atau tampilan hidangan itu, dan menjawab semua pertanyaan yang muncul, seperti bagaimana bentuk lumpia yang sudah digulung dengan rapi.

Jennifer Lopez ikut mendirikan Culture Kitchen itu satu setengah tahun lalu, bersama mitra usahanya, Abby Sturges. Ia mencoba menemukan orang yang pandai memasak, tetapi tidak biasa mengajar, karena hambatan bahasa atau kurang pendidikan formal. Lopez menghubungi kelompok-kelompok masyarakat dan juga mendapat bantuan dari sumber yang tak disangka.

“Banyak juru masak kami, bukan mereka yang menghubungi kami, tetapi anak laki-laki dan perempuan mereka yang mengirim e-mail kapada kami dan mengatakan, ’Ibu atau nenek saya membuat masakan paling enak.’ Lalu saya katakan kepadanya bahwa ia harus memperlihatkan keahliannya memasak. Itu penting. Itu merupakan saat yang sangat menarik,” ujar Lopez.

Culture Kitchen mengadakan kursus masak dua kali sebulan, sering kali diselenggarakan di dapur yang dipinjamkan atau di balai pertemuan masyarakat. Lopez berharap bisa segera mendapat tempat tetap. Masakan yang diajarkan mulai dari Bengali sampai Peru dan Afganistan.

Tidak peduli masakan dari negara mana di dunia ini, mengajar secara langsung selalu lebih berhasil. Siswa Laurie Mun belajar langsung memasak makanan Vietnam. Ia mengatakan bahwa lewat peragaan langsung seperti itulah ia berhasil menguasai masak masakan Kanton. Kata Mun, kakeknya sangat kritis dengan cita rasa masakannya, selalu ada saja yang kurang.

Meskipun mendapat nilai yang kurang bagus, Mun berterima kasih mendapat kesempatan belajar menjadi juru masak yang baik. Kursus-kursus di Culture Kitchen itu tidak sekedar mencegah resep-resep itu punah. Jennifer Lopez mengatakan bahwa peluang mengajar juga meningkatkan rasa percaya diri pada ahli-ahli masak.

“Banyak perempuan yang bekerja bersama kami tidak punya teman di luar lingkungan budaya mereka. Jadi, ini kesempatan untuk berbagi resep masakan mereka ke kelompok yang lebih luas. Benar-benar luar biasa menyaksikan beberapa jurumasak itu berubah dan tampil dengan rasa percaya diri yang besar,” papar Lopz lagi.

Penjelmaan menjadi guru masak, orang dengan sebuah keterampilan tradisional yang penting, kini siap membagi keahliannya dengan murid-murid yang ingin menguasai ketrampilan memasak.
XS
SM
MD
LG