Tautan-tautan Akses

Belajar Kemanusiaan dari Riyanto, Gugur Saat Amankan Perayaan Natal Tahun 2000

  • Petrus Riski

Anggota Banser NU siap mengamankan Natal di berbagai daerah di Jawa Timur (Foto: VOA/Petrus)

Pengorbanan Riyanto, anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser NU) Mojokerto, saat mengamankan perayaan Natal tanggal 24 Desember 2000 di gereja Eben Haezer tidak akan pernah dilupakan umat Kristiani di Jawa Timur.

Menjelang perayaan Natal, umat dari berbagai agama di Jawa Timur melakukan berbagai kegiatan dan doa untuk mengenang almarhum Riyanto, anggota Banser NU yang gugur saat menjalankan tugas pengamanan Natal. Riyanto meninggal karena memeluk bom yang ditemukan di dalam gereja Eben Haezer, di Mokojerto, Jawa Timur, untuk menyelamatkan umat Kristiani yang sedang beribadah

Pengorbanan Riyanto, anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser NU) Mojokerto, saat mengamankan perayaan Natal tanggal 24 Desember 2000 di gereja Eben Haezer tidak akan pernah dilupakan umat Kristiani di Jawa Timur.

Menurut Ketua Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Jawa Timur, Pendeta Simon Filantropa, peran Riyanto sebagai tenaga bantuan pengamanan gereja saat Natal, menjadi contoh seseorang yang mampu bergerak melintasi batasan yang ada di masyarakat.

“Saya mengagumi dia, karena ya dengan level Banser NU yang kadang-kadang dia tidak punya kedudukan, tidak punya pangkat apa pun, tetapi ternyata dia mengerjakan hal yang sebenarnya lebih besar. Karena kalau soal keamanan itu kan mestinya urusan aparat, urusan keamanan gereja sendiri. Tapi kesediaan dia menjaga itu sesuatu yang mengagumkan. Bagi saya, ini adalah salah satu contoh orang yang bergerak melintasi batas-batas,” kata Pendeta Simon Filantropa.

Hal senada juga diungkapkan Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya, Romo Agustinus Tri Budi Utomo. Menurut romo Tri Budi atau biasa disapa romo Didik, Riyanto merupakan martir bagi kesejahteraan dan rasa aman yang selama ini dibutuhkan masyarakat.

“Maka yang dilakukan Riyanto itu, dia adalah martir bagi kesejahteraan masyarakat, rasa aman bagi masyarakat. Bahwa kebutuhan rasa aman itu kan kebutuhan seluruh warga, dan Riyanto telah mengabdikan hidupnya di pengabdian bagi kesejahteraan dan bagi rasa aman warga masyarakat,” kata Romo Agustinus Tri Budi Utomo.

Foto almarhum Riyanto di samping seragam Banser yang terkena ledakan bom Natal 2000, dipajang di Museum Nahdlatul Ulama Jawa Timur di Surabaya (Foto:VOA/Petrus Riski).
Foto almarhum Riyanto di samping seragam Banser yang terkena ledakan bom Natal 2000, dipajang di Museum Nahdlatul Ulama Jawa Timur di Surabaya (Foto:VOA/Petrus Riski).

Sosok Riyanto sebagai anggota Banser NU menurut Helmi Kristiawan Wijaya, patut diteladani oleh masyarakat mengenai contoh perbuatan baik kepada orang lain tanpa melihat siapa orang yang akan ditolong.

“Yang jelas ya kagum lah, dia posisinya itu kan hanya prajurit biasa, dia yang diposisikan untuk membantu menjaga ibadah umat lain, ya intinya sih dia itu bisa jadi teladan juga buat kita-kita, buat semua, bahwa kita itu kalau menolong orang lain, kita tidak perlu melihat latar belakang orang yang akan kita tolong,” kata Helmi Kristiawan Wijaya, Umat Kristen Protestan.

Agatha Retnosari juga menyebut, sosok Riyanto merupakan contoh seseorang dengan nilai kemanusiaan yang melebihi kebanyakan orang, karena rela berkorban nyawa demi orang lain tanpa mempermasalahkan perbedaan.

“Tanpa dia kemudian mempertimbangkan siapakah yang dia selamatkan, ini nilai kemanusiaannya jauh lebih tinggi dari apa pun yang bisa kita nilai, terutama apalagi pada saat-saat sekarang, dimana kemudian banyak sekali kasus-kasus yang mengedepankan perbedaan, tetapi mas Riyanto ini saya rasa sosok yang sangat berjasa, yang rela mengorbankan nyawanya untuk keselamatan sesama,” kata Agatha Retnosari.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur, Hasan Bisri mengatakan, pengorbanan Riyanto yang tewas akibat bom pada malam Natal tahun 2000, tidak mempertimbangkan banyak hal selain demi kemanusiaan.

“Ketika Riyanto mengorbankan diri, itu saya kira dia tidak sejauh itu ingin terlibat, karena saya yakin dia memahami dan sadar bahwa urusan yang namanya bom itu bukan keahliannya dia. Tetapi bahwa apa yang dia lakukan dengan cara yang cepat, dan lalu kemudian mengambil sikap yang tepat, yang lalu tanpa dia sadari ternyata mengorbankan diri sendiri, ternyata pengabdian dia tidak hanya karena faktor ini (bom) pelanggaran hukum dan lain-lain, tapi ini urusan kemanusiaan,” kata Hasan Bisri.

Meski banyak pihak yang mengapresiasi pengorbanan Riyanto, tidak sedikit pula pihak yang mencibir dan memperolok apa yang dilakukan Riyanto bersama anggota Banser yang lain. Hasan Bisri menegaskan, keterlibatan Banser dalam mengamankan perayaan agama umat lain merupakan bentuk tanggungjawab warga negara dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki keberagaman.

“Kalau pun ada yang mencibir, mengatakan itu konyol, itu hak mereka ya karena hingga hari ini, kami di Ansor, di Banser itu masih dibully urusan itu, berkaitan dengan Ansor jaga gereja, kapan jaga masjid, termasuk begitu kan. Kami menjawab bahwa Ansor, Banser itu setiap hari menjaga masjid, mejaga kyai, menjaga NKRI. Kami sambang ke gereja, ke tempat ibadah non muslim itu dalam rangka kemanusiaan dan menjaga Bhinneka Tunggal Ika,” lanjutnya.

Keterlibatan Ansor dan Banser dalam menjaga kerukunan dan persaudaraan antar umat beragama di Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari sosok KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang sudah sejak lama telah menginspirasi banyak orang untuk ikut menjaga Indonesia dalam bingkai Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.


“Di masa-masa pemerintahan Orde Baru, saya kira Gus Dur sudah menginspirasi banyak pihak termasuk aktivis muda NU, ada Ansor yang punya Banser itu, lalu ada PMII dan lain-lain, itu banyak terlibat dalam urusan kerukunan, urusan toleransi, dan saling membantu lintas agama,” kata Hasan Bisri. [pr/ab]

XS
SM
MD
LG