Tautan-tautan Akses

Belajar Kabaret di Universitas Yale


Instruktur Tovah Feldshuh dan Nancy Gair sedang memperagakan sebuah peran pada salah satu acara di International Cabaret Conference, Yale University.

Instruktur Tovah Feldshuh dan Nancy Gair sedang memperagakan sebuah peran pada salah satu acara di International Cabaret Conference, Yale University.

Setiap tahun Universitas Yale di negara bagian Connecticut, AS menjadi tuan rumah International Cabaret Conference.

Kata “Kabaret” mungkin mengingatkan kita pada penyanyi-penyanyi di klub malam atau film “Cabaret” yang dibintangi Liza Minnelli beberapa tahun lalu. Tentunya sama sekali tidak terkait dengan asrama mahasiswa, kantin mahasiwa, atau kuliah pada pagi hari.

Tetapi sudah delapan tahun terakhir ini, banyak penyanyi berbakat datang ke International Cabaret Conference di Universitas Yale, New Haven, negara bagian Connecticut, AS.

Yang bertindak sebagai sutradara di kamp latihan kabaret ini adalah Erv Raible, pemilik sebuah klub di kota New York. Ia mengatakan kabaret merupakan pengalaman yang sangat emosional bagi seorang penyanyi.

“Pengalaman itulah yang merupakan bagian terpenting. Tidak seperti jenis hiburan lain, kabaret membuat kita seolah-olah tahu perasaan para pemainnya. Mereka menyentuh perasaan kita,” kata Raible.

Belajar bagaimana menyentuh perasaan adalah tujuan utama diadakannya konferensi itu, selain juga belajar bagaimana mengenakan kostum dan bersolek untuk pentas. Siswa juga belajar tata suara, pencahayaan, dan pemasaran.

Berlatih bersama tentang seluk-beluk seni pertunjukan.

Berlatih bersama tentang seluk-beluk seni pertunjukan.

Tahun ini jumlah pesertanya 38 orang, berumur antara 16 sampai 66 tahun, yang datang dari seluruh Amerika dan negara-negara lain.

Harold Sanditen dari negara bagian Oklahoma yang dulunya bankir investasi mengatakan

“Saya kemudian menjadi produser teater selama 20 tahun di London. Tetapi sejak tiga tahun lalu saya mulai menyanyi. Karir inilah yang sejak dulu saya inginkan, tetapi saya tidak pernah punya rasa percaya diri,” ungkap Sanditen.

Sanditen dan rekan-rekannya berkesempatan meluangkan waktu sembilan hari bekerja dengan para sutradara dan artis kabaret terkenal, di antaranya Laurel Masse, anggota kelompok penyanyi Manhattan Transfer, dan Faith Prince, artis pemenang Tony Award.

Dalam sesi penampilannya yang pertama Sanditen mencoba menyanyikan sebuah lagu the Beatles dengan versinya sendiri.

Lindsay Sutherland Boal dari Vancouver, Kanada dulunya penyanyi opera. Tetapi kemudian ia berubah pikiran dan tertarik menyanyi di kabaret.

“Yang penting bukan menjadi penyanyinya atau artis kabaretnya, karena kabaret adalah tentang menceritakan pengalaman. Saya sudah tahu hal itu, tetapi sekarang saya memahaminya pada tingkat yang lebih dalam,” kata Boal.

Pada pertunjukan berjudul “Cabaret Stars of Tomorrow” semua siswa diberi waktu tiga menit untuk mempertontonkan apa yang telah mereka pelajari di depan pemirsa yang membeli tiket pertunjukan.

XS
SM
MD
LG