Tautan-tautan Akses

Beijing: Kebijakan Ekonomi Tiongkok Bukan Penyebab Merosotnya Ekonomi AS

  • Peter Simpson

Presiden AS Barack Obama dan Presiden Tiongkok Hu Jintao dalam KTT G-20 di Seoul (foto: dok). AS dan Tiongkok saling mengkritik kebijakan perekonomian masing-masing.

Presiden AS Barack Obama dan Presiden Tiongkok Hu Jintao dalam KTT G-20 di Seoul (foto: dok). AS dan Tiongkok saling mengkritik kebijakan perekonomian masing-masing.

Pejabat Tiongkok membalas dengan tajam kritikan Presiden Barack Obama tentang kebijakan mata uang dan perdagangan Tiongkok.

Sebelumnya, Presiden AS Barack Obama mengatakan bahwa pemerintah Amerika tidak ingin Tiongkok mengambil keuntungan dari Amerika. Kementerian Luar Negeri Tiongkok menanggapinya beberapa jam kemudian, dan mengatakan bahwa kebijakan ekonomi Tiongkok bukanlah penyebab merosotnya perekonomian Amerika.

Beijing membantah klaim Presiden Barack Obama bahwa Tiongkok memanipulasi nilai tukar mata uangnya dan melindungi sistem perdagangannya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Liu Weimin dengan tegas membela kebijakan nilai tukar mata uang dan kebijakan investasi asing pemerintah Tiongkok.

Liu mengatakan, Tiongkok tidak dengan sengaja menjaga nilai tukar Yuan rendah untuk menguntungkan perusahaan-perusahaan Tiongkok dan membuat produk mereka lebih murah di pasar internasional. Tiongkok katanya berupaya menjaga nilai tukar sesuai pasar. Namun ia mengatakan Tiongkok melakukannya berdasarkan laju kerja mereka sendiri.

Liu mengatakan bahkan jika nilai Renminbi meningkat secara substansial, itu tidak akan memecahkan masalah yang dihadapi Amerika.

Ia mengatakan defisit perdagangan Amerika, pengangguran dan apa yang disebutnya sebagai "masalah struktural lainnya" tidak disebabkan oleh manipulasi Tiongkok atas nilai tukar mata uangnya.

Presiden Obama menggunakan bahasa yang tegas dan menuntut Tiongkok untuk mematuhi aturan-aturan investasi internasional.

Setelah bertemu Presiden Tiongkok Hu Jintao di KTT APEC di Hawaii hari Minggu, Obama mengatakan aturan internasional berlaku bagi semua negara dan memungkinkan mereka bersaing kuat satu sama lainnya.

Obama menambahkan bahwa Amerika akan "tetap tegas bahwa Tiongkok harus menjalankan aturan yang sama seperti negara-negara lain."

"Peran mereka (Tiongkok, red.) sekarang berbeda dibandingkan 20, atau 30 tahun lalu. Jika mereka dulu melanggar beberapa aturan, itu tidak banyak artinya dan tidak berdampak secara signifikan. Ketika itu tidak ada ketidakseimbangan perdagangan besar yang berdampak terhadap sistem keuangan dunia. Sekarang, Tiongkok telah tumbuh besar, maka harus bersedia mengelola proses ini secara bertanggung jawab," demikian pernyataan Obama.

Liu menepiskan pernyataan Presiden Obama tersebut yang menuduh bahwa Tiongkok bersikap tidak dewasa dan tidak baik.

Ia mengatakan adalah Amerika, bukan Tiongkok, yang perlu mematuhi aturan-aturan perdagangan internasional. Ia menyerukan Amerika untuk membiarkan perusahaan Tiongkok berinvestasi lebih banyak di Amerika.

Liu juga menuntut supaya Amerika melonggarkan pembatasan ekspor produk-produk teknologi tinggi ke Tiongkok, dan mengatakan hal itu akan sangat menguntungkan perusahaan-perusahaan Amerika. Amerika melarang penjualan sebagian barang-barang berteknologi tinggi ke Tiongkok dengan alasan keamanan nasional.

Namun, Amerika bukan satu-satunya negara yang menuduh Tiongkok memanipulasi mata uangnya. Uni Eropa juga menuduh Tiongkok sengaja menjaga nilai tukar mata uangnya rendah untuk mendorong Tiongkok menjadi pusat manufaktur dan ekonomi terbesar kedua di dunia.

XS
SM
MD
LG