Tautan-tautan Akses

Jelang Lebaran Tukang Becak di Solo Terima Pembagian Sarung

  • Yudha Satriawan

Para tukang becak di Solo mencoba sarung baru yang dibagikan kepada mereka oleh Keluarga Alumni Mahasiswa Gadjah Mada dalam rangka Lebaran (25/7)

Para tukang becak di Solo mencoba sarung baru yang dibagikan kepada mereka oleh Keluarga Alumni Mahasiswa Gadjah Mada dalam rangka Lebaran (25/7)

Komunitas alumni sebuah perguruan tinggi menggelar aksi sosial membagi ratusan sarung dan baju Lebaran untuk tukang becak di Solo. Sarung menjadi sahabat para tukang becak saat melewati malam dingin menunggu penumpang.

“Terima kasih, nasib kami tukang becak masih diperhatikan. Terima kasih kami mendapat sarung untuk Lebaran. Mari kita selalu bersyukur,” Demikian kata salah seorang tukang becak yang ikut menerima bingkisan sarung lebaran dalam aksi sosial menjelang Idul Fitri di Solo.

Paiman, tukang becak yang biasa mangkal di Pasar Klewer Solo tampak senang menerima selembar sarung baru dan uang 20 ribu rupiah yang dibagikan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) di Solo, Jumat siang (25/7).

Menurut Paiman, sarung baru tersebut bisa dipakai untuk Lebaran nanti. Sarung lamanya, sudah kumal dan sobek karena setiap hari pakai untuk selimut tidur di becak. Paiman menjelaskan dirinya pulang ke rumah setiap tiga hari sekali.

“Dapat apa ini? Ini saya dapat sarung baru. Bisa buat Lebaran nanti, dipakai pas Lebaran, sholat Idul Fitri. Ya rasanya senang sekali. Ya senang nggak usah beli sarung baru. Pekerjaan saya sehari-hari tukang becak di sini,” kata Paiman gembira.

Ungkapan serupa juga dilontarkan tukang becak lainnya di Solo, Suroto. Suroto memilih mendapat baju batik Lebaran daripada sarung. Menurut Suroto, baju batik itu akan dipakai saat Lebaran nanti, berkumpul bersama keluarga.

“Ya, ini saya dapat baju batik baru ini aja. Sarungnya gak dapat, ya buat Lebaran kan bisa dipakai untuk sholat idul Fitri. Perasaan saya seang sekali. Sekarang kan beli baju dan kebutuhan makan sehari-sehari semakin mahal. Ya mudah-mudahan aksi sosial ini bisa terus berlanjut tahun-tahun mendatang. Tapi kalau bisa masing-masing tukang becak bisa dapat baju batik dan sarung baru untuk Lebaran. Bukan hanya sarung saja atau baju batik saja,” kata Suroto.

Bagi tukang becak di Solo, lebaran dirayakan dengan sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari masih pas-pasan, apalagi kalau membeli makanan dan baju Lebaran. Semakin banyaknya kendaraan umum, angkutan, bus, dan sepeda motor membuat nasib para tukang becak di Solo terpinggirkan. Belum tentu sehari-dua hari bisa mendapat satu penumpang.

Juru bicara penyelenggara Aksi Sosial Berbagai Sarung Lebaran di Solo, Achmad Purnomo, mengatakan merayakan Lebaran tidak harus dengan serba kemewahan. Menurut Purnomo, Lebaran menjadi momen untuk berbagi dengan aksi sosial kemanusiaan untuk sesama agar bisa merayakan Lebaran.

“Ini kegiatan yang rutin kita gelar tiap tahun di Solo. Membagikan sarung dan baju batik Lebaran untuk abang-abang becak di Solo. Tahun ini aksi KAGAMA di Solo ini membagikan sekitar 800 lembar sarung dan baju batik. Kami berharap aksi ini menumbuhkan rasa peduli sesama yang membutuhkan agar bisa ikut merayakan Lebaran. Sekarang kebutuhan hidup kan semakin mahal. Kita berbagilah saat Lebaran. Menurut kami, membagikan sarung dan baju batik itu lebih praktis, dan sangat berguna bagi mereka, para tukang becak di Solo. Mereka sangat membutuhkan itu,” kata Achmad Purnomo.

Ratusan becak tampak terparkir di tepi jalan Slamat Riyadi, lokasi aksi sosial tersebut. Ratusan tukang becak ikut mengantri dengan membawa kupon yang sudah dibagikan pantia penyelenggara sebelumnya.

XS
SM
MD
LG