Tautan-tautan Akses

Beasiswa Bidikmisi Lambat Cair, Sulitkan Mahasiswa Penerima

  • Nurhadi Sucahyo

Para mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. (Foto: Dok)

Para mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. (Foto: Dok)

Skema beasiswa untuk membantu mahasiswa cerdas dari keluarga miskin, Bidikmisi, tidak lancar dalam pencairan anggaran.

Setiap hari, Eko Nurcahyo Pratomo harus mengayuh sepeda sejauh lebih dari 30 kilometer, dari rumahnya di Imogiri hingga kampus Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Baginya, tetap tinggal di rumah lebih bermanfaat, karena menghemat biaya hidup dibanding indekost. Dia juga tetap bisa membantu orang tuanya di rumah.

Ayahnya yang memiliki dua ekor kambing kadang menjadi buruh bangunan jika ada pekerjaan, sedang ibunya buruh di industri rumahan pembuatan makanan kecil dengan upah Rp 15 ribu sehari.

Beruntunglah, otak Eko cukup encer sehingga bisa diterima di jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM.
Lewat skema mahasiswa Bidikmisi, Eko dibebaskan dari biaya kuliah selama delapan semester dan menerima uang saku Rp 600 ribu sebulan.

“Kalau untuk kebutuhan saya sendiri masih cukup, bahkan masih sisa sebenarnya. Saya harap ke depan sistem diperbaiki sehingga tidak ada keterlambatan. Kalau sampai terlambat kan kasihan mahasiswa yang dari luar daerah, pada kerepotan. Kalau untuk saya masih cukup, tapi untuk mahasiswa asal luar daerah mungkin masih kurang, jadi bagi mereka perlu dinaikkan, agar tercukupi,” ujarnya.

Kendala yang sering dihadapi Eko adalah ketika beasiswa itu terlambat dicairkan pemerintah. Karena uang saku Rp 600 ribu itu menjadi satu-satunya sumber pendanaan untuk membeli buku, fotokopi bahan kuliah, hingga menyelesaikan tugas-tugas dari dosen.

Persoalan yang sama juga dihadapi oleh penerima beasiswa Bidikmisi yang lain, yaitu Joki, mahasiswa asal Sambas, Kalimantan Barat yang melewati masa sekolahnya di sebuah panti asuhan di Banyuwangi, Jawa Timur.

Orangtuanya yang miskin sama sekali sudah tidak bisa mengirimkan uang. Jika beasiswa tersendat, mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM ini harus meminjam dari kawan.

“Karena orangtua juga tidak mampu, jadi saya juga berusaha, misalnya pinjam kalau ada masalah keuangan, kalau itu adalah temen yang bisa meminjami. Untuk apapun, kalau pun saya butuh uang saya tidak mau minta ke orang tua, karena saya tidak mau menyusahkan mereka, karena saya kesini nekad, tidak ada dukungan dari mereka. Mereka inginnya saya kerja, tapi karena saya sudah diterima, maka saya harus berkomitmen. Saya harus tetap maju meskipun tanpa dukungan (keuangan),” ujarnya.

Karena hanya diberikan selama delapan semester, tantangan bagi mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi kini adalah lulus tepat waktu. Permata Sari Telaumbanua, mahasiswa asal Kepulauan Nias sudah dipesan oleh orang tuanya untuk selesai kuliah secepatnya.

Ayahnya, seorang nelayan di Gunung Sitoli, Nias, menegaskan bahwa tidak ada uang tersedia jika tidak ada beasiswa pemerintah. Karena itu, bagi Permata, masalah biaya kuliah ini tidak boleh mengganggu konsentrasinya, sehingga dia bisa diwisuda dalam tiga tahun ke depan.

“Harapan orangtua juga jangan sampai 8 semester, setidaknya tiga tahun atau 3,5 tahun sudah selesai, terus dapat kerja. Nah yang jadi fokus saya ke depan ini ya tentu saja agar saya dapat kerja secepatnya,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah total mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi hingga tahun akademik 2012/2013 tercatat 88.142 mahasiswa.

Rinciannya adalah 86.210 mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri dan 1.932 di mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta. Seperti yang dirasakan tiga mahasiswa tadi, problem besar skema beasiswa ini adalah terlambatnya pencairan, karena persetujuan anggaran yang selalu terlambat di pemerintah pusat termasuk tahun ini.
XS
SM
MD
LG