Tautan-tautan Akses

Basmi Jamur dengan Jamur


Petani Nigeria sedang saling membagikan Aflasafe untuk menurunkan kontaminasi racun Aflatoxin, yang pernah menewaskan sedikitnya 125 orang di Kenya.

Petani Nigeria sedang saling membagikan Aflasafe untuk menurunkan kontaminasi racun Aflatoxin, yang pernah menewaskan sedikitnya 125 orang di Kenya.

Para peneliti di Amerika menanam jamur-jamur yang tidak beracun untuk memberantas jamur-jamur yang mematikan di Kenya. Metode yang serupa juga akan diterapkan di sebuah negara bagian Amerika.

Aflatoxin adalah racun alami yang berasal dari jamur yang berkembang pada jagung, singkong, kacang tanah dan tanaman lainnya. Dosis tinggi racun ini bisa menyebabkan kerusakan hati yang fatal. Pada tahun 2004, wabah jamur ini di Kenya menewaskan sedikitnya 125 orang.

Aflatoxin juga berbahaya meskipun dosisnya rendah karena bisa menyebabkan kanker, menghambat pertumbuhan anak dan melemahkan sistem pertahanan tubuh.

Jamur yang memproduksi racun itu tumbuh dalam lingkungan yang panas dan lembab. Beberapa jenis jamur yang tumbuh di Kenya mengandung racun aflatoxin yang sangat tinggi. Namun tidak semua jamur itu memproduksi racun mematikan tersebut, kata Peter Cotty, pakar penyakit tanaman pada Departemen Pertanian Amerika.

"Kami menemukan beberapa jenis jamur yang tidak memproduksi aflatoxin sama sekali. Mereka tumbuh alami dan bisa ditemukan dikawasan pedesaan Kenya. Hanya saja, jamur ini sulit ditemukan. Dengan teknik-teknik tertentu, kita bisa menemukan jamur-jamur tersebut, kemudian kita sebar jamur itu agar mereka tumbuh dan bersaing dengan jamur yang memproduksi racun berbahaya tadi."

Cotty dan rekan-rekannya mengembangkan jamur tidak beracun itu agar tumbuh lebih cepat dibanding jamur yang beracun. Mereka menyebarkan jamur itu pada padi-padian, seperti gandum atau sorgum, yang sudah disterilkan hingga tidak bisa tumbuh. Ketika petani menyebarkan padi-padian itu ke ladang mereka, jamur-jamur itu tumbuh dengan makan tanaman dan serangga yang sudah mati.

“Jamur-jamur tidak beracun itu akan tumbuh berlipat ganda dan menyebar ke seluruh lahan dan menggantikan bagi jamur beracun," jelas Cotty.

Cotty dan teman-temannya di Institut Internasional Tananam Tropis (IITA) telah mendaftarkan produk bernama Aflasafe di Nigeria. Pada lahan percobaan tahun lalu, petani yang menggunakan padi-padian yang dilapisi jamur tidak beracun itu telah menurunkan kontaminasi aflatoxin sampai 80 persen.

Petani Amerika juga memerangi jamur dengan jamur. Misalnya, petani kapas mesti mencegah biji kapas terkontaminasi jamur beracun agar bisa dijual sebagai pakan ternak. Michael Braverman dari Rutgers University, mengelola program yang membantu para ilmuwan mendaftarkan produk-produk perlindungan alami tanaman temuan mereka di Amerika. Ia mengatakan petani kapas di negara bagian Arizona, Amerika Barat Daya menggunakan metode yang serupa dengan yang diujicoba di Nigeria dan terbukti efektif.

"Metode ini cukup efektif hingga petani di Arizona membangun fasilitas sendiri untuk memproduksi produk tadi. Mereka bukan sekedar konsumen produk tersebut, tetapi adalah badan resmi yang memiliki nomor pendaftaran itu."

Peter Cotty dan IITA sekarang sedang mencari mitra untuk mengembangkan teknologi ini kepada para petani di Kenya, di mana kontaminasi aflatoxin telah merugikan masyarakat dan perekonomian negara itu (VOA/Budi Setiawan).

XS
SM
MD
LG