Tautan-tautan Akses

Jumlah Keluarga Tuna Wisma Meningkat di Washington DC


Jesus Torres menempati satu ruang bersama isteri dan tiga anaknya di di tempat penampungan sementara. Tempat penampungan lokal berjubel pada musim dingin, sementara akses ke perumahan murah sangat terbatas akibat pemangkasan anggaran dan meningkatnya biaya hidup di Washington, DC (foto: dok).

Jesus Torres menempati satu ruang bersama isteri dan tiga anaknya di di tempat penampungan sementara. Tempat penampungan lokal berjubel pada musim dingin, sementara akses ke perumahan murah sangat terbatas akibat pemangkasan anggaran dan meningkatnya biaya hidup di Washington, DC (foto: dok).

Washington, DC, ibu kota Amerika, menghadapi masalah dengan keluarga-keluarga yang tidak punya tempat tinggal.

Data terbaru menunjukkan, lebih dari 1.000 keluarga, termasuk sedikitnya 1.800 anak, merupakan tuna wisma di Washington DC. Jumlah itu naik hampir 75 persen sejak resesi mulai tahun 2008. Tempat-tempat penampungan lokal berjubel pada musim dingin yang baru saja lewat, sementara akses ke perumahan murah sangat terbatas akibat pengurangan anggaran dan meningkatnya biaya hidup di kota ini.

Marcaus Scales, orang tua tunggal sudah setahun ini menjadi tuna wisma. Sejak November, ia dan puterinya, Saihy, empat tahun, tinggal di tempat penampungan keluarga DC General.

Ia menuturkan, “Saya harus terus menerus meyakinkan dia, semuanya akan jadi lebih baik. Kondisi seperti sekarang hanya semnetara saja. Ia menangis tiap malam dan saya harus terus menghiburnya. Terkadang dia hanya mau tidur dengan saya. Kadang-kadang dia hanya mau dekat saya, kadang-kadang tidak.”

Namun, Saihy bersekolah setiap hari, sementara ayahnya mengambil jurusan psikologi di universitas setempat.

DC General, bekas rumah sakit tua, merupakan rumah sementara bagi sekitar 286 keluarga. Siang hari, lorong-lorong gedung itu hampir kosong, karena anak-anak bersekolah atau di taruh di penitipan, dan orang tua mereka bekerja atau berusaha mencari kerja. Tempat penampungan itu baru-baru ini menjadi pusat perhatian media setempat setelah sebuah kelompok advokasi melaporkan adanya masalah dengan panasnya suhu ruangan serta merajelelanya tikus dan kecoa.

Amber Harding, pengacara pada Washington Legal Clinic, yang membantu tuna wisma mendapatkan rumah, tempat penampungan, dan layanan-layanan lainnya, mengatakan ada sekitar 1.200 sampai 3.000 anak gelandangan di Washington. Hampir setiap hari, katanya, keluarga-keluarga ini terpaksa pindah-pindah untuk mencari tempat yang aman untuk ditinggali.

“Washington, DC hanya menyediakan tempat penampungan bagi keluarga-keluarga ketika suhu udara di bawah nol derajad Celcius. Jadi setiap malam, jika udara di atas nol derajad, DC tidak punya kewajiban hukum menyediakan tempat penampungan. Pada malam-malam seperti itu, banyak keluarga pergi ke stasiun-stasiun bis, dan taman-taman umum,” paparnya.

Sharlisse Baltimore cukup beruntung tidak lagi harus tinggal di tempat penampungan, yang ditempatinya selama tujuh bulan bersama lima dari keenam anaknya. Ia ikut dalam program bantuan, yang mewajibkannya membayar sewa rumah, tetapi dibatasi hanya 30 persen dari penghasilannya, dan baru-baru ini ia berhasil punya rumah sendiri. “Saya gembira sekali. Kami akhirnya bisa mendapat rumah. Saya menjemput anak-anak dari sekolah dan mereka bertanya, ‘Ibu kita mau pergi ke mana?’ Ketika keluar dari mobil, mereka bertanya, ‘rumah siapa ini?’ Saya jawab, ini rumah kita, dan ketika saya membuka pintu rumah, mereka berlarian ke sana ke mari,” ujarnya.

Namun, menemukan rumah murah tidak mudah. Sebagian warga mengatakan kepada anggota-anggota dewan kota pada sidang dengar pendapat baru-baru ini, bahwa untuk mendapatkan akses ke tempat penampungan pun sekarang sulit.

David Berns, Direktur Layanan Kemanusiaan di Washington, DC, mengatakan, Wali kota Vincent Grey menjanjikan jutaan dolar bagi layanan tuna wisma, dan itu sangat membantu. “Kami bisa memperpendek masa tinggal di sini. Kami bisa mengurangi jumlah orang yang tinggal di penampungan sementara dari jumlah tahun lalu. Jadi ada dampak positif,” paparnya.

Sementara itu di DC General, Marcaus Scales mengatakan keluarga-keluarga tuna wisma juga harus diberi pelatihan dan pendidikan agar bisa membayar cicilan atau sewa rumah murah yang telah mereka dapatkan.

Scales tidak putus asa, dan berharap ia bisa segera menemukan jalan keluarnya. (Milena Djurdjic)

XS
SM
MD
LG