Tautan-tautan Akses

Bankir Inggris Diduga Bunuh 2 Perempuan Indonesia di Hong Kong


Rurik Jutting, 29, (kanan), bankir Inggris yang dituduh membunuh dua perempuan tiba di pengadilan di Hong Kong (3/11).

Rurik Jutting, 29, (kanan), bankir Inggris yang dituduh membunuh dua perempuan tiba di pengadilan di Hong Kong (3/11).

Pembunuhan itu telah mengejutkan pusat keuangan Asia dengan reputasi sebagai kota yang aman dengan tingkat kejahatan dengan kekerasan yang rendah itu.

Kepolisan Hong Kong pada Senin (3/11) menuduh seorang bankir Inggris membunuh dua perempuan, salah satunya seorang perempuan Indonesia yang jenazahnya ditemukan di dalam koper di balkon apartemen kelas atas pria tersebut, menurut pihak berwenang.

Pembunuhan itu telah mengejutkan pusat keuangan Asia dengan reputasi sebagai kota yang aman dengan tingkat kejahatan dengan kekerasan yang rendah itu.

Rurik George Caton Jutting tampil sebentar dalam sidang pendahuluan, saat ia berbicara hanya untuk mengukuhkan bahwa ia mengerti ada dua tuduhan pembunuhan terhadapnya.

Polisi mengatakan pada akhir pekan bahwa pria berusia 29 tahun itu telah memanggil mereka ke apartemennya di Wan Chai, daerah kehidupan malam dan distrik lampu merah di Hong Kong, pada Sabtu pukul 3.42 dini hari.

Dokumen-dokumen pengadilan menyebut kebangsaannya sebagai Inggris dan pekerjaannya adalah "bankir Bank of America." Jutting bekerja untuk bank itu sampai baru-baru ini, menurut juru bicara Bank of America Merrill Lynch, Paul Scanlon, Minggu.

Menurut pernyataan polisi, petugas bergegas ke apartemen pria tersebut, tempat mereka menemukan seorang perempuan yang tak sadarkan diri, berusia sekitar 25-30 tahun, dengan sayatan di leher dan bokongnya. Ia dinyatakan tewas di tempat tersebut.

Saat menyelidiki, polisi menemukan sebuah koper di balkon yang berisi jenazah perempuan yang telah mengalami luka leher dan tewas beberapa hari sebelumnya, menurut polisi.

Dokumen polisi menyebutkan perempuan bernama Sumarti Ningsih dan dibunuh pada 27 Oktober, yang mengindikasikan bahwa perempuan itu adalah yang jenazahnya ditemukan dalam koper. Nama perempuan satu lagi belum diketahui.

Juru bicara konsulat Indonesia Sam Aryadi mengukuhkan bahwa Sumarti adalah orang Indonesia. Eni Lestari, penasihat Asosiasi Pekerja Migran Indonesia di Hongkong, mengindikasikan bahwa perempuan kedua adalah juga orang Indonesia.

"Kami sedang mencoba mencari keluarga para korban dan berupaya menyampaikan pada keluarga dan kerabat mereka mengenai situasi yang sangat menyedihkan ini," ujar Sam, yang menambahkan bahwa Sumari masuk Hong Kong dengan visa turis pada 4 Oktober dan diberi izin tinggal sampai 3 November.

Jutting akan ditahan sampai 10 November.

Polisi mengatakan mereka menyita pisau di apartemen tersebut, yang terletak di gedung papan atas J Residence di Hong Kong, sebuah gedung apartemen 40 lantai.

Jutting adalah lulusan University of Cambridge yang telah bekerja dalam bidang keuangan dan perdagangan ekuitas terstruktur untuk Bank of America Merrill Lynch di Hong Kong sejak Juli 2013 dan sebelumnya di London sekitar tiga tahun, menurut data di LinkedIn. Sebelumnya ia bekerja untuk Barclays.

Hong Kong belum pernah menghadapi kasus yang banyak disorot melibatkan warga asing sejak kasus "Milkshake Murder" pada 2003, saat seorang ibu rumah tangga asal Amerika Nancy Kissel didakwa memukul suaminya, seorang bankir, sampai tewas setelah memberinya minuman milkshake stroberi berisi obat penenang.

Kissel mendapatkan hukuman seumur hidup karena membunuh suaminya, Robert Kissel, yang kebetulan juga bekerja di Merrill Lynch, yang kemudian dibeli Bank of America. (AP)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG