Tautan-tautan Akses

Bank Pemerintah Gantungkan Harapan pada Proyek Infrastruktur


Pembangunan jalan tol baru di Jakarta (foto: dok).

Pembangunan jalan tol baru di Jakarta (foto: dok).

Bank-bank BUMN di Indonesia mengandalkan proyek-proyek infrastruktur untuk menggairahkan kembali pertumbuhan kredit yang mengendor, selagi bank-bank ini mengerem pemberian kredit bagi sektor komoditas dan sementara bisnis-bisnis lokal mengekang upaya ekspansi di tengah rupiah yang melemah terhadap dolar AS.

Lebih berhati-hatinya bank-bank Indonesia dalam memberikan kredit sejak tahun lalu telah memangkas pertumbuhan kredit menjadi 11,6% Januari lalu, peningkatan tahun-ke-tahun terkecil dalam lima tahun terakhir, menurut data dari Bank Indonesia. Pengendalian kredit mengakibatkan pertumbuhan keuntungan bank-bank menurun ke tingkat 4,5 persen, pertumbuhan terkecil dalam sembilan tahun terakhir, menurut analisis Thomson Reuters terhadap 15 bank termasuk PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Central Asia Tbk and PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Rencana proyek-proyek infrastruktur pemerintah akan membantu mengangkat pertumbuhan kredit pada paruh kedua 2015, menurut analis. Presiden Joko Widodo telah menyebut perbaikan infrastruktur Indonesia yang bobrok sebagai prioritas pemerintahannya.

Seorang kasir di Bank Indonesia menghitung lembaran-lembaran kertas rupiah.

Seorang kasir di Bank Indonesia menghitung lembaran-lembaran kertas rupiah.

Presiden Jokowi berada di Jepang dan China pekan ini di antaranya untuk menggalang investor untuk membantu membangun proyek-proyek infrastruktur seperti pelabuhan, pembangkit tenaga listrik dan jalan tol bagi perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini. Tapi bila proyek-proyek ini ditunda atau dibatalkan, "kami khawatir bahwa pertumbuhan kredit tahun ini bahkan tidak akan mencapai 14 persen," ujar Teguh Hartanto, analis perbankan dari Bahana Securities.

Sementara pertumbuhan kredit melambat, deposito bank terus bertumbuh, 12,4 persen tahun lalu. Padahal sebelumnya, selama 10 tahun berturut-turut kredit bertumbuh lebih besar dengan selisih 7 persen dibandingkan deposito, menurut laporan Standard Chartered di bulan April 2014.

Bank-bank di Indonesia mengurangi pemberian kredit bagi sektor komoditas di tengah menurunnya permintaan dari China bagi sumber daya mulai dari batu bara hingga kelapa sawit. Bisnis-bisnis dalam negeri juga mengekang upaya ekspansi di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat dan melemahnya rupiah terhadap mata uang dolar AS, yang mengakibatkan rendahnya permintaan bagi kredit usaha. Sementara itu, kredit bermasalah masih rendah dengan hanya 2,3 persen di bulan Januari.

XS
SM
MD
LG