Tautan-tautan Akses

Bank Indonesia dan Pemerintah Dinilai Kurang Koordinasi

  • Iris Gera

Gedung Bank Indonesia di Jakarta (foto: dok). Pengamat menilai BI dan pemerintah masih kurang koordinasi dalam merumuskan kebijakan ekonomi.

Gedung Bank Indonesia di Jakarta (foto: dok). Pengamat menilai BI dan pemerintah masih kurang koordinasi dalam merumuskan kebijakan ekonomi.

Bank Indonesia menegaskan akan terus berupaya melakukan kebijakan moneter untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, namun pengamat menilai upaya BI tanpa koordinasi dengan pemerintah akan sia-sia.

Kepada pers di Jakarta, Selasa, Gubernur BI, Darmin Nasution mengatakan BI juga berupaya menjaga Indonesia dari dampak negatif akibat melemahnya perekonomian Eropa dan Amerika.

Gubernur BI menambahkan pelemahan di dua kawasan tersebut harus diwaspadai meski pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif. Upaya BI menurut Gubernur BI di antaranya dengan terus menurunkan tingkat suku bunga acuan BI atau BI rate meski secara perlahan.

“Intinya adalah apa yang kita lakukan memberikan dasar, pondasi agar ekonomi kita kemudian tidak terpengaruh terlalu jauh dengan krisis yang terjadi di dunia, tidak terpengaruh terlalu jauh tertarik ke bawah pertumbuhannya, tidak terpengaruh terlalu jauh ekspornya terlalu terpukul, itu semua kita pertimbangkan, memang bukan tidak ada cost-nya itu semua, mana ada yang gratisan di bawah kolong langit ini,” ujar Darmin Nasution.

Sementara, menurut Presiden Direktur Center for Banking Crisis, Ahmad Denny Danuri lambatnya pergerakan ekonomi Indonesia disebabkan oleh tidak adanya koordinasi yang baik antara kebijakan pemerintah, kebijakan BI dan kebijakan perbankan. Ia menilai pemerintah seolah kurang perhatian terhadap kebijakan-kebijakan BI dan pemerintah merasa bahwa kebijakannya adalah yang paling kuat.

Ia berharap meski BI independen namun untuk hal-hal tertentu BI juga harus aktif mengajak pemerintah untuk bekerjasama, di antaranya menurunkan suku bunga pinjaman terutama untuk kegiatan ekonomi kerakyatan seperti usaha kecil menengah atau UKM.

Ahmad Denny Danuri mengatakan, “Pemerintah cobalah membuat koordinasi yang baik, pemerintah sebagai instrumen fiskal, BI sebagai kebijakan moneter dan perbankan sebagai instrumen perbankannya membuat regulasi dan koordinasi sehingga kebijakan mereka saling mangantisipasi, baru mantap, kayak Cina dia lagi melemah pertumbuhannya, bank central segera ingin menurunkan yuan-nya terhadap US dollar supaya ekspornya naik lagi, kan jelas tuh strateginya, jadi mereka semua circle, ekonominya jelas sekali untuk melakukan pertumbuhan percepatan ekonomi, kita agak lemah (karena) masing-masing egois.”

Akhir pekan lalu BI rate kembali diturunkan dan kini berada di posisi 5,75 persen dari sebelumnya di posisi 6 persen. Namun berbagai kalangan masih mengeluh ketidakberdayaan pemerintah untuk meminta perbankan agar ikut menurunkan suku bunga pinjaman sehingga perekonomian dapat bergerak lebih cepat.

XS
SM
MD
LG