Tautan-tautan Akses

Banjir Hambat Distribusi Bahan Pangan

  • Iris Gera

Banjir di daerah Kampung Melayu-Tebet, Jakarta Selatan (13/1). (VOA/Ahadian Utama)

Banjir di daerah Kampung Melayu-Tebet, Jakarta Selatan (13/1). (VOA/Ahadian Utama)

Banjir yang terjadi sejak awal pekan lalu di wilayah Jakarta dan sekitarnya, dan belakangan juga terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, menyebabkan distribusi bahan pangan tersendat.

Kerugian juga dialami pengusaha makanan dan minuman kemasan, seperti diungkapkan Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minumal seluruh Indonesia, Adhi Lukman,

Banjir juga merusak lahan pertanian dan perkebunan diantaranya lahan tanaman tebu, sehingga menurut Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia, Abdul Wahid, mengancam target kebutuhan gula nasional.

Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya serta di berbagai wilayah di Indonesia menganggu distribusi kebutuhan pangan. Sebelumnya Menko Perekonomian, Hatta Rajasa menegaskan, kenaikan harga bahan pangan di pasar disebabkan tersendatnya distribusi akibat banjir sehingga stok dipasar berkurang siginifikan dan pedagang menjual dengan harga tinggi. Harga berbagai kebutuhan pangan saat ini seperti cabai, bawang, daging ikan, ayam potong, serta sayur-sayuran rata-rata naik sebesar 50 hingga 60 persen.

Kondisi serupa juga dialami pengusaha makanan dan minuman kemasan. Kepada pers di Jakarta, Rabu, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman seluruh Indonesia, atau GAPMMI, Adhi Lukman mengatakan, potensi kerugian GAPMMI akibat banjir sekitar Rp 200 milyar per hari.

Selain distribusi tersendat, kerugian terjadi disebabkan pemadaman listrik yang berdampak pada ongkos produksi, serta turunnya produktivitas buruh karena tempat tinggalnya terendam banjir. Kemungkinan ditambahkannya, GAPMMI akan menaikkan harga produk makanan dan minuman kemasan sekitar 10 persen tahun ini untuk menutupi potensi kerugian akibat banjir.

“Potensi kerugian itu sekitar 200 milyar per hari kalau kita diamkan banjir terus menerus terjadi seperti ini, ini potensi ya bukan real kerugian,” papar Adhi Lukman.

Banjir juga berdampak negatif pada industri gula akibat terendamnya tanaman tebu di berbagai wilayah. Menurut Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia, Abdul Wahid, terhambatnya distribusi pupuk hingga lambatnya proses pertumbuhan tebu akibat banjir, dikhawatirkan mengganggu musim panen tebu yang biasanya terjadi pada sekitar bulan Mei.

Abdul Wahid mengungkapkan, “yang menjadi pengaruh juga apabila kalau sampai sinar matahari, kalau mendung seperti ini terus tanpa ada panas bisa menghambat pertumbuhan, juga menghambat proses kemasakan, pengiriman pupuk ke kebun memang ini agak berpengaruh terhadap musim cuaca seperti ini, kita tambah biayalah, tambah ongkos untuk proses pemupukan.”

Abdul Wahid menambahkan perubahan suaca secara ekstrim membuat para petani tebu khawatir target pemerintah swasembada gula tahun ini tidak tercapai.

Pemerintah menargetkan tahun ini Indonesia mampu swasembada gula dan gula merupakan komoditas pertama yang menjadi target swasembada, disusul komoditas lain seperti beras, daging, jagung, dan kedelai.

Semula pemerintah menargetkan tahun ini swasemada gula sebesar 5,7 juta ton namun direvisi menjadi sekitar 3,1 juta ton karena beberapa alasan terutama perubahan iklim. Sementara kebutuhan gula nasional tahun ini diperkirakan mencapai 5,7 juta ton namun pemeritah tidak khawatir karena akan menambahnya dari stok yang ada saat ini sebesar 2,8 juta ton.

Meski hingga saat ini banjir belum berdampak pada harga beras, Badan Urusan Logistik atau BULOG berjanji akan melakukan operasi pasar jika harga beras naik.

Selain itu BULOG juga memberi jatah beras kepada daera-daerah yang terkena bencana termasuk banjir yaitu sebesar 200 ton untuk bencana di tingkat provinsi dan 100 ton untuk bencana di daerah tingkat kabupaten.
XS
SM
MD
LG