Tautan-tautan Akses

Bagi Pengungsi Irak, Bertahan Hidup adalah Hadiah Tahun Baru


Pasukan keamanan Irak memerika lokasi serangan bom di pasar sentral (31/12). Baghdad, Irak. (foto: REUTERS/Ali al-Mashhadani)

Bagi pengungsi Irak tidak ada perayaan tahun baru besar-besaran bagi laki-laki, perempuan dan anak-anak Irak yang berhasil keluar dari medan tempur di Mosul.

Tidak ada perayaan tahun baru besar-besaran bagi laki-laki, perempuan dan anak-anak Irak yang berhasil keluar dari medan tempur di Mosul, dan kini masih harus menunggu selama beberapa jam hingga pasukan bersenjata menyatakan bahwa laki-laki dewasa dalam rombongan mereka tidak terkait ISIS.

Mereka yang beruntung akan ditampung di kamp-kamp pengungsian, di mana mereka harus bertahan hidup di tenda-tenda ala kadarnya di tengah musim dingin, dengan pasokan makanan, minyak pemanas dan selimut seadanya.

Mereka yang namanya termasuk dalam daftar pencarian orang akan ditahan, diinterogasi dan menghadapi persidangan.

Banyak warga Irak mengatakan kepada Associated Press bahwa mereka sempat menderita kelaparan selama beberapa minggu, dengan hanya satu kali makan dan minum air seadanya yang diperoleh dari mata air yang mereka gali. Tidak ada susu bagi bayi atau balita, yang bertahan hidup dengan sepotong roti yang dicelupkan ke dalam teh atau sup yang terbuat dari beras dan gandum yang dihancurkan. Penderitaan mereka semakin memburuk dengan tidak adanya layanan kesehatan dan tidak berfungsinya fasilitas listrik. Mereka juga menyaksikan bagaimana tembakan mortir dan peluru nyasar meneewaskan anggota keluarga dan tetangga mareka.

Mereka tidak tahu kapan bisa pulang ke rumah, tetapi mereka tetap bersyukur.

"Kamp ini adalah pilihan terbaik diantara pilihan buruk yang ada. Tinggal di Mosul akan membunuh Anda," ujar Ahmed Abu Karam, seorang guru bahasa Inggris yang sebelumnya tinggal di Karama, di bagian timur Sungai Tigris. "Apa yang terjadi pada tahun 2017 nanti terserah pada Allah SWT, tetapi saya ingin mengatakan betapa upaya melarikan diri dari Mosul ini telah memberi saya kehidupan baru. Saya sangat bersyukur atas nikmat ini."

Abu Karam adalah salah seorang dari sekitar 200 laki-laki yang diperintahkan oleh tentara Irak untuk berjongkok di luar sebuah toko di jalan utama yang dekat dengan kota Bartella di dekat Mosul. Lokasi itu adalah tempat berkumpul warga Sunni yang melarikan diri dari Mosul agar tidak terbunuh dalam baku tembak antara pasukan pemerintah dan militan ISIS atau karena kelaparan karena kelangkaan pangan. [em]

XS
SM
MD
LG