Tautan-tautan Akses

Badan PBB akan Bangun 20 Sekolah Ramah Lingkungan di Jalur Gaza

  • Gabe Joselow

Proyek perumahan UNRWA di Khan Younis, Jalur Gaza selatan yang masih dalam tahap penyelesaian (foto: dok). UNRWA berencana membangun sekolah ramah lingkungan untuk warga Palestina.

Proyek perumahan UNRWA di Khan Younis, Jalur Gaza selatan yang masih dalam tahap penyelesaian (foto: dok). UNRWA berencana membangun sekolah ramah lingkungan untuk warga Palestina.

Arsitek kepala proyek itu mengatakan bangunan swasembada tersebut akan ramah lingkungan dan berkesinambungan, dan menyediakan tempat belajar bagi para siswa pengungsi.

Wilayah Palestina sering tidak diikutsertakan dalam diskusi perubahan iklim. Menurut Badan Energi Internasional, wilayah Palestina menduduki peringkat 137 dalam daftar penghasil gas karbon dioksida di dunia – jumlah polusinya kurang sedikit dari Islandia dan lebih besar sedikit dari Madagaskar.

Tapi setelah konflik bertahun-tahun, daerah itu memerlukan pertumbuhan yang signifikan.

Robert Stryk, koordinator program Badan PBB Untuk Jalur Gaza (UNRWA), mengatakan, “Kami memiliki kira-kira 240 sekolah. Sekolah-sekolah itu memberi pendidikan bagi kira-kira 230.000 murid dan kira-kira 40.000 anak berada dalam daftar tunggu karena kami tidak bisa menampung mereka.”

Untuk mengatasi masalah itu, UNRWA membangun "sekolah hijau" dengan biaya rendah dan teknologi ramah lingkungan yang berkesinambungan yang tidak terlalu mencemari lingkungan.

Setiap bangunan dapat menampung 800 siswa dan biayanya sekitar 2 juta dolar. Rencananya adalah membangun 20 sekolah pada tahun-tahun mendatang.

Arsitek proyek itu, Mario Cucinella, mengatakan kondisi hidup yang sulit di Gaza membuat proyek itu menjadi ajang pengujian yang tepat untuk proyek-proyek berkesinambungan.

Menurut saya tantangan di Gaza, salah satu daerah yang paling ekstrem di dunia, sangat sulit, seperti jendela untuk melihat bencana di masa depan. Semua orang berbicara tentang masa depan, terlalu banyak penduduk, banyaknya masalah demografis, sulit mengakses sumber daya alam, sulit mendapatkan energi, sulit mendapatkan air, jadi semua masalah ada di Gaza.” Papar Mario Cucinella.

Di daerah dimana 90 persen air minum yang tersedia tidak aman untuk minum, sekolah-sekolah menampung air hujan kemudian dijernihkan.

Suhu musim panas di wilayah itu bisa mencapai 40 derajat Celcius, bangunan-bangunan sekolah itu akan berlokasi diatas lahan yang disebut Cucinella "danau udara," yakni hamparan lahan berkerikil yang memungkinkan udara dingin dari tanah bersikulasi. Ruang-ruang kelas akan dibangun dengan langit-langit yang tinggi yang membuat udara panas bergerak ke atas dan menjauh.

Tiang-tiang kokoh yang menopang struktur bangunan diisi dengan tanah, sebuah teknologi praktis untuk mengendalikan suhu ruangan.

XS
SM
MD
LG