Tautan-tautan Akses

Wapres Boediono Kunjungi Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo

  • Munarsih Sahana

Wapres Boediono (kiri) didampingi Butet Kartarejasa (kanan) memberikan sambutan saat berkunjung di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo, Kamis, 10 Juli 2014 (Foto: VOA/Munarsih).

Wapres Boediono (kiri) didampingi Butet Kartarejasa (kanan) memberikan sambutan saat berkunjung di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo, Kamis, 10 Juli 2014 (Foto: VOA/Munarsih).

Wakil Presiden Boediono mengapresiasi usaha padepokan seni tersebut dan mengatakan bahwa generasi muda bangsa perlu pendidikan estetika agar tumbuh menjadi insan yang berkarakter.

Ditengah suhu politik yang tinggi paska pemilihan presiden, Wakil Presiden Boediono, Kamis (10/7) mengunjungi Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo yang terletak di dusun Kembaran Kasihan Kabupaten Bantul Yogyakarta.

Padepokan Seni tersebut didirikan tahun 1978 oleh almarhum Bagong Kussudiardjo, seniman serba bisa dan koreografer tari yang meninggal pada tahun 2004.

Tiba di padepokan, wakil presiden dan Ibu Herawati Boediono diterima oleh putra-putri almarhum Bagong termasuk seniman teater Butet Kartarejasa dan adiknya musisi Jadug Ferianto. Padepokan seni terdiri dari pusat pelatihan tari, kelompok musik Kua Etnika, Orkes Sinten Remen dan Teater Gandrik.

Kepada Wakil presiden Boediono, Butet Kartarejasa mengatakan, padepokan kini dikembangkan sebagai pusat pendidikan seni bagi masyarakat luas. "Kami ingin membagi ilmu seni kepada semua profesi. Peserta workshop bukan hanya seniman tetapi juga guru, bukan guru seni tetapi guru-guru yang kita anggap apriori seni, nggak suka seni, benci seni supaya ngerti bahwa di dalam seni ada daya kreatif yang bisa mengubah manusia. Kami workshop dengan para polisi, dengan PNS Provinsi, bahkan dengan aktivis LSM, teman-teman jurnalis bahkan ibu-ibu rumah tangga,” kata Butet.

Wakil presiden Boediono mengapresiasi usaha padepokan seni tersebut dan mengatakan bahwa generasi muda bangsa perlu pendidikan estetika agar tumbuh menjadi insan yang berkarakter, memiliki kepekaan, menghormati etika dan kreatif.

"Kalau kita ingin menciptakan generasi muda yang tangguh yang bisa kita beri estafet menjadi pemimpin bangsa dimasa depan yang lebih baik dari kita-kita ini biasanya mereka juga memiliki kepekaan terhadap etika; mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar mana yang salah,” kata Wapres Budiono.

Kepada Wakil Presiden, juga disuguhkan pergelaran tari Gema Nusantara karya almarhum Bagong Kussudiarjo yang menampilkan gerakan beragam tari daerah di seantero Indonesia. Menurut Wakil Presiden, agar menjadi negara yang kuat Indonesia juga perlu mengembangkan Negara Kesatuan atau NKRI dengan perspektif budaya.

Wapres Boediono dan ibu Herawati berfoto bersama para penari di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo, Yogyakarta, Kamis, 10 Juli 2014 (Foto: VOA/Munarsih).

Wapres Boediono dan ibu Herawati berfoto bersama para penari di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo, Yogyakarta, Kamis, 10 Juli 2014 (Foto: VOA/Munarsih).

“Kalau kita membayangkan NKRI secara politik itu sudah kita garap sejak lama, NKRI secara ekonomi itu kita garap melalui menghubungkan pulau-pulau yang 17-ribu itu dengan infrastruktur, dengan transportasi yang baik supaya mereka menyatu dan tidak lepas keluar. Dibidang budaya nampaknya juga demikian; merajut budaya-budaya local yang ragamnya luar biasa ini saya kira adalah kontribusi bagi NKRI kita yang tidak kasat mata tetapi memberikan dampak luar biasa pada jangka panjang,” ujar Wapres.

Kunjungan wakil presiden ke padepokan, menurut Butet Kartarejasa, sebenarnya rencana yang sudah lama tetapi baru bisa dilaksanakan sekarang. Selama ini ternyata Wapres Boediono sering menyaksikan pergelaran Teater Gandrik.

"Beliau tahun lalu nonton pertunjukan Gundala Gawat, lalu bulan Mei nonton saya bikin Matinya Sang Maestro. Beberapa kali pertemuan pak Boed itu memang berkeinginan melihat sanggar- apa yang kami lakukan, saya malah cerita tentang padepokan,” jelas Butet Kartarejasa.

Almarhum seniman Bagong Kussudiardjo semasa hidupnya banyak terlibat dalam upaya diplomasi kebudayaan di luar negeri.

XS
SM
MD
LG