Tautan-tautan Akses

Australia Bentuk Unit Intelijen Dunia Maya untuk Lacak Dana Teroris


Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull dalam kampanye di Sydney (3/7).

Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull dalam kampanye di Sydney (3/7).

Unit baru tersebut akan menyelidiki sarana-sarana pembayaran daring dan kejahatan finansial di dunia maya untuk melacak jaringan pencucian uang dan kriminal.

Australia telah membentuk unit intelijen dunia maya untuk mengidentifikasi pendanaan terorisme, pencucian uang dan penipuan finansial di dunia maya, menurut pemerintah negara itu Selasa (9/8), karena adanya ancaman-ancaman "yang belum pernah ada sebelumnya" terhadap keamanan nasional.

Langkah itu merupakan perluasan landasan kebijakan besar Perdana Menteri konservatif Malcolm Turnbull, yang menang tipis dalam pemilihan ulang bulan lalu setelah berjanji memperbaiki keamanan dunia maya Australia dan mentransformasi negara menjadi pusat bisnis berteknologi tinggi.

Menteri Kehakiman Michael Keenan mengatakan unit baru tersebut, yang dibawahi badan pelacak uang Pusat Laporan dan Analissis Transaksi Australia (AUSTRAC), akan menyelidiki sarana-sarana pembayaran daring dan kejahatan finansial di dunia maya untuk melacak jaringan pencucian uang dan kriminal.

"Kami tahu bahwa penggunaan identitas-identitas palsu terus menjadi faktor kunci kejahatan serius dan terorganisir dan terorisme," ujar Keenan dalam pernyataan tertulis.

Pernyataan itu mengatakan bahwa unit baru AUSTRAC itu akan bekerjasama dengan layanan pendukung identitas yang didanai pemerintah Australia dan Selandia Baru, ID Care, untuk menyasar penipuan-penipuan perekrutan pekerjaan yang digunakan sindikat-sindikat kriminal untuk menarik orang-orang tak bersalah mengirim uang di antara wilayah.

Unit baru itu juga akan bekerjasama dengan Jaringan Pelaporan Daring Kejahatan Dunia Maya Australia untuk mengidentifikasi pola dan tren yang dapat mengindikasikan penipuan-penipuan keuangan skala besar atau metodologi mereka, ujar Keenan.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa keputusan bank-bank besar Australia untuk berhenti menawarkan layanan pengiriman uang ke luar negeri telah mendorong bisnis transfer uang secara gelap, membuat pihak berwenang sulit melacaknya.

Bulan Februari, para peretas tak dikenal mencoba mencuri uang hampir US$1 miliar dari akun bank sentral Bangladesh di Federal Reserve Bank of New York, dan berhasil mentransfer $81 juta ke empat rekening di RCBC di Manila. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG