Tautan-tautan Akses

Aturan Kredit Diperlonggar, Pengembang Asing Bangun Properti di Indonesia


Seorang pekerja berjalan melewati iklan apartemen di distrik bisnis Sudirman, Jakarta Selatan. (Foto: Dok)

Seorang pekerja berjalan melewati iklan apartemen di distrik bisnis Sudirman, Jakarta Selatan. (Foto: Dok)

Upaya-upaya dari otoritas, seperti melonggarkan aturan kredit kepemilikan dan pelonggaran aturan pajak penjualan properti, mulai menggerakkan pasar.

Para pengembang asing, dipimpin oleh perusahaan negara China Communication Constructions Group (CCCG), menanamkan modal dengan jumlah terbesar di sektor properti permukiman Jakarta dalam hampir satu dekade tahun ini, mengharapkan aturan kredit kepemilikan yang diperlonggar akan mendongkrak permintaan.

Kompleks delapan menara senilai US$1 miliar yang dibangun CCCG menyasar pasangan muda Indonesia dengan pendapatan menengah dan merupakan salah satu kompleks terbesar di Jakarta.

Japan's Mitsubishi Corporation, Tokyu Land, Hong Kong Land, dan Malaysian Sime Darby, juga telah menandatangani proyek di Jakarta dan sekitarnya, menurut data yang dikumpulkan konsultan konstruksi BCI Asia.

Proyek-proyek itu diperkirakan akan bernilai sedikitnya $2,8 miliar, atau yang paling tinggi dari pengembang asing sejak setidaknya 2007, dan muncul meski pasar properti Indonesia sedang lesu.

"Target pasar kami adalah pasangan-pasangan muda, keluarga-keluarga muda. Orang-orang yang memerlukan perumahan dengan aksesibilitas tinggi," ujar Ferry Thahir, manajer umum PT China Harbour Jakarta Real Estate Developer, sebuah unit CCCG. Ia menambahkan bahwa kemacetan parah di Jakarta membuat kedekatan jarak dengan pusat kota sangat vital.

Jumlah pasangan atau keluarga muda kelas menengah di Indonesia diperkirakan telah mencapai 55 juta, menurut data dari pengembang PT Lippo Karawaci Tbk.

CCCG terlibat dalam pembangunan proyek-proyek permukiman di negara-negara Asia lainnya seperti Myanmar dan Malaysia, namun mereka selama ini fokus pada infrastruktur di Indonesia.

Perusahaan negara China itu berencana membangun empat proyek permukiman lagi di Jakarta, tertarik dengan peningkatan urbanisasi -- sekitar 200.000 orang pindah ke Jakarta setiap tahun -- dan juga langkah-langkah untuk mendukung pasar tersebut.

"Upaya-upaya dari otoritas, seperti melonggarkan aturan kredit kepemilikan dan pelonggaran aturan pajak penjualan properti, mulai menggerakkan pasar," ujar Ferry.

Ledakan Investasi Asing

Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa investasi langsung asing di semua segmen properti naik menjadi $1,67 miliar pada periode Januari-September, meningkat dari $1,48 miliar setahun yang lalu, sementara jumlah proyek-proyek yang didanai investor asing naik 34 persen menjadi 842 proyek dalam periode yang sama.

Melemahnya penjualan properti telah menurunkan harga tanah di Jakarta, dan perusahaan-perusahaan Indonesia telah bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan asing untuk pendanaan, ujar Theresia Rustandi, wakil ketua asosiasi properti Real Estat Indonesia (REI).

Usaha gabungan Mitsubishi dengan PT Bumi Serpong Damai Tbk akan membangun 1.000 unit perumahan dan ritel, sementara kemitraan Sime Darby dan pengembang Indonesia PT Hanson International Tbk akan berinvestasi Rp 11,3 triliun untuk mengembangkan lahan seluas 500 hektar.

Penurunan global dalam harga-harga komoditas telah memukul pasar properti Indonesia. Nilai penjualan properti jatuh 35 persen tahun 2014, 26 persen tahun 2015 dan 49 persen dalam sembilan bulan pertama tahun ini, menurut perusahaan riset Indonesia Property Watch (IPW).

Namun Bank Indonesia telah memangkas indeks suku bunga dengan total 150 basis poin tahun ini dan menurunkan persyaratan uang muka minimum untuk para pembeli rumah, yang merupakan pemotongan kedua dalam dua tahun ini. Pemerintah juga telah memotong setengah dari pajak penjualan rumah.

Ali Tranghanda, direktur eksekutif IPW, memperkirakan penjualan properti akan tumbuh sedikitnya 15 persen tahun 2017 untuk mencatat pertumbuhan tahunan yang pertama sejak 2013.

Namun sejumlah pengembang dalam negeri lebih waspada.

"Kami melihat pemulihan, namun hal itu akan terjadi perlahan," ujar Tulus Santoso, direktur PT Ciputra Development Tbk, menambahkan bahwa pasar kemungkinan sulit menyerap rumah-rumah yang baru dibangun. [hd]

XS
SM
MD
LG