Tautan-tautan Akses

2 Atlet Yudo Asal Kongo Berharap Masuk Tim Pengungsi Olimpiade

  • Associated Press

Walikota Rio de Janeiro Eduardo Paes (kiri) melambaikan bendera Olimpiade di London, 2012.

Walikota Rio de Janeiro Eduardo Paes (kiri) melambaikan bendera Olimpiade di London, 2012.

Komite Olimpiade Internasional diperkirakan akan mengumumkan nama-nama Tim Pengungsi Olimpiade hari Jumat (3/6).

Untuk pertama kalinya, salah satu tim yang bertanding dalam Olimpiade akan terdiri dari para pengungsi dari negara-negara berbeda yang tidak lagi mereka sebut tanah air.

Popole Misenga dan Yolande Mabika, keduanya atlet yudo dari Kongo, adalah dua dari mereka yang bersaing tempat dalam tim pengungsi. Mereka mengatakan peluang untuk menjadi bagian dari sejarah terasa seperti sebuah bentuk balas dendam, pengakuan bersama atas penderitaan dan aspirasi pengungsi di manapun.

"Bagi saya, ini luar biasa karena seorang pengungsi tidak pernah berpartisipasi dalam Olimpiade sebelumnya," ujar Misenga, 24. "Seluruh dunia akan menyaksikan."

Minggu ini, keduanya berharap akan tahu apakah mereka lolos seleksi. Komite Olimpiade Internasional diperkirakan akan mengumumkan nama-nama Tim Pengungsi Olimpiade hari Jumat (3/6).

Pejabat Olimpiade mengatakan mereka telah mengidentifikasi 43 atlet yang berpotensi memiliki kualifikasi untuk kompetisi, tapi tim pengungsi hanya akan terdiri dari lima sampai 10 anggota. Tim ini akan berkompetisi dengan membawa bendera Olimpiade, bukannya bendera negara manapun.

Baik Misenga dan Mabika melarikan diri dari kota-kota asal mereka yang dikoyak perang saat masih anak-anak. Perang saudara di negara Afrika tengah itu telah menewaskan beberapa juta orang sejak pertengahan 1990an.

Pada akhirnya, keduanya menjadi bagian dari federasi yudo nasional Kongo. Namun mereka mengatakan pelatihannya sungguh berat dan kegagalan meraih medali dalam kompetisi berarti hukuman, termasuk dikurung dalam sel dengan sedikit air dan makanan selama berhari-hari.

Tahun 2013, keduanya pergi ke Brazil dengan tim mereka untuk bertanding dalam Kejuaraan Yudo Dunia. Mereka mengatakan di Rio, pengurus tim memperlakukan mereka sekasar di negara asal. Mereka mengklaim para pengurus meninggalkan mereka di hotel di pusat kota Rio selama tiga hari sebelum kompetisi tanpa makanan, uang atau paspor.

"Beberapa hari sebelum pertandingan, saya amat sangat lapar. Saya hampir mati," ujar Mabika, 28.

Mabika memutuskan untuk meninggalkan hotel dan keluyuran di jalanan yang sibuk di Rio untuk mencari makan dan pertolongan. Mabika dan Misenga kemudian mendaftar untuk suaka di Brazil, yang memberi mereka status pengungsi.

Email-email kepada federasi yudo di Kongo untuk mendapatkan pernyataan mengenai tuduhan para atlet tersebut tidak dibalas.

Lewat bantuan badan amal Reacao, Misenga dan Mabika setiap hari menjalani kelas yudo dan cross-training seperti persiapan atlet-atlet Brazil lainnya. Mereka berlatih dengan Geraldo Bernardes, yang memimpin tim nasional Brazil ke empat Olimpiade. [hd]

XS
SM
MD
LG