Tautan-tautan Akses

Atlet Muda Aceh Wakili Indonesia di Kejuaran Barongsai Dunia 2015

  • Budi Nahaba

Tim Barongsai Golden Dragon Aceh menampilkan kategori kombinasi tonggak serta meja atau double lions. (VOA/ Budi Nahaba)

Tim Barongsai Golden Dragon Aceh menampilkan kategori kombinasi tonggak serta meja atau double lions. (VOA/ Budi Nahaba)

Dewan Pimpinan Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) provinsi Aceh menyatakan, delegasi atlet barongsai Aceh mendapat undangan khusus untuk kejuaran dunia Barongsai 2015, yang berlangsung bulan Mei mendatang di Jakarta.

Otoritas pemerintah Aceh memuji kesiapan tim Aceh dan berharap mampu menujukkan kemapuan mereka, sehingga dapat mengharumkan nama Aceh di pentas dunia.

Ketua Perhimpunan Komunitas Tionghoa Aceh (Yayasan Hakka) Kho Khie Siong (Aki) mengatakan Minggu (1/3), tim barongsai Aceh terdiri dari 30 atlet, didominasi kaum muda dari sejumlah sekolah terkemuka di Banda Aceh dan sekitarnya.

“Barongsai ini sudah menjadi cabang olahraga di Indonesia dibawah FOBI, Pak Dahlan Iskan sebagai Ketua FOBI. Mereka semua atlet bukan disebut pemain lagi,” jelasnya.

Kho Khi Siong bersama ratusan warga kota Banda Aceh menyaksikan dari dekat penampilan para atelit dari tim inti barongsai Aceh, Golden Dragon (GD). Tim terdiri dari 30 atlet menampilkan kategori kombinasi tonggak serta meja (double lions) hari Minggu (1/3), masih merupakan rangkaian memeriahkan perayaan Imlek 2566 tahun ini, dipusatkan di Kampung Keberagaman, kawasan pecinan Peunayong Banda Aceh.

Menurut Kho Khie Siong, tim barongsai Golden Dragon menjadi tim inti yang akan mewakili Aceh dalam kejuaran dunia Mei 2015 mendatang di Jakarta.

“Jadi kita persiapan untuk menghadapi kejuaran dunia di Jakarta pada bulan Mei 2015 mendatang. Kita diundang khusus, karena dinilai unik dan barongsai di Aceh berkembang cukup pesat,” tambahnya.

Dukungan penuh serta apresiasi kepada tim barongsai Golden Dragon Aceh disampaikan pimpinan Kota, kalangan parlemen serta warga kota Banda Aceh.

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal berharap tim Aceh berhasil menjuarai kompetisi barongsai kelas dunia mendatang. Illiza minta warga bersatu dan menjadikan kawasan Peunayong sebagai kawasan model yang terus berkembang, yang mencerminkan dinamika kota yang dinamis madani, sehingga lebih berdampak kepada sektor ekonomi sosial dan kesejahteraan warga kota.

Anggota Komisi Luar Negeri Parlemen Aceh Bardan Sahidi cukup optimistis dengan kemampuan atlet muda Aceh, sehingga para atlet yang menekuni cabang-cabang olahraga favorit dapat terus berkembang dan membawa nama harum Aceh di pentas dunia.

“Semangat berolahraga makin tumbuh di kalangan anak muda. Kita apresiasi dan mendukung buat mereka yang berprestasi, baik lokal, regional maupun internasional. Selain kejuaran barongsai, kita juga punya atlet muaithai, jujitsu dan karate,” kata Bardan.

Warga kota, Mila Maisarah (22) memuji kerja keras para pelatih, pemerintah kota dan kalangan swasta di Banda Aceh, terutama dengan melibatkan kaum muda dalam berbagai program sosial budaya dan keagamaan, termasuk olahraga yang mencerminkan persatuan kesatuan warga kota.

Atlet muda tim barongsai Golden Dragon Aceh Chelsea, Fatma dan Ratih.

Atlet muda tim barongsai Golden Dragon Aceh Chelsea, Fatma dan Ratih.

Beberapa atlet Barongsai dari tim Golden Dragon yang akan bertolak ke Jakarta mengikuti kejuaran dunia, terdiri dari siswi sekolah menengah pertama (SMP) di Banda Aceh, yaitu Chelsea (15) dari SMP Methodist, Ratih (14) dan Fatma (15) siwsi SMPN 11 Banda Aceh.

Menurut Fatma, mengahadapi kejuaraan dunia mendatang, atlet berlatih setiap hari penuh semangat dan mendapat dukungan dari keluarga dan dewan guru di sekolah.

Peneliti sejarah mengatakan, Barongsai adalah tarian tradisional yang berasal dari China dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa, Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi. Beberapa pemuka Tionghoa Aceh menyakini, barongsai berkembang di Aceh dibawa oleh Laksamana Muslim Cheng Ho dan ribuan pengikutnya saat mendarat di Aceh dan sejumlah wilayah di nusantara. Laksamana Cheng Ho mengawali misi pelayaran samudera keliling dunianya pada awal abad ke-15, atau pada saat Kaisar Yongle dari China berkuasa tahun 1403 hingga 1424 M.

Pekan lalu, tepatnya saat puncak perayaan Imlek 2566 (19/2), komunitas warga Tionghoa yang bermukim di kawasan Peunayong, kota Banda Aceh mendeklarasikan kawasan tersebut sebagai kampung “keberagaman” pertama di provinsi Aceh.

XS
SM
MD
LG