Tautan-tautan Akses

AS, Rusia Terus Upayakan Gencatan Senjata di Suriah


Menlu AS John Kerry (Foto: dok).

Menlu AS John Kerry (Foto: dok).

Upaya terbaru untuk mewujudkan setidaknya gencatan senjata sementara dalam pertempuran di Suriah terus berlanjut, Senin (22/2).

Amerika Serikat dan Rusia berupaya meyakinkan pihak-pihak yang bertikai dalam konflik itu agar menerima proposal mengenai gencatan senjata.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry, Minggu (21/2) mengatakan suatu “persetujuan sementara” telah dicapai dengan Rusia setelah ia berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

“Kenyataannya, kita membuat kemajuan, bahkan pada saat saya berdiri di sini sekarang. Ada bantuan yang dikirim, modalitas bagi gencatan senjata sekarang sedang diselesaikan. Faktanya, kita sekarang lebih dekat pada gencatan senjata dibandingkan dengan sebelumnya, dan saya tidak meremehkan hal ini. Dihentikannya permusuhan, hudna, mungkin saja terjadi dalam beberapa jam mendatang,” kata Menlu Kerry.

Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan pemerintahnya siap melakukan gencatan senjata, tetapi tidak demikian jika “teroris” memanfaatkannya untuk memperkuat posisi-posisi mereka. Ia kerap menyebut pejuang oposisi sebagai teroris sepanjang konflik yang dimulai pada Maret 2011 itu.

Namun sementara pembicaraan kembali berfokus pada upaya menghentikan pertempuran, kekerasan berlanjut hari Minggu dengan serangan bom besar-besaran yang diklaim oleh kelompok ISIS di Damaskus dan Homs. Serangan di Damaskus menewaskan sedikitnya 83 orang, dan 59 lainnya tewas di Homs.

Kerry mengatakan sekutu Assad, Rusia, akan berbicara dengan pemerintah Suriah dan Iran, sedangkan Amerika akan berbicara dengan kelompok-kelompok oposisi dalam upaya menerapkan gencatan senjata.

Rusia telah melancarkan serangan-serangan udara untuk mendukung pemerintah Damaskus. Amerika dan negara-negara lain menyatakan serangan itu telah ditujukan terhadap pasukan pemberontak Suriah, bukannya kelompok teroris ISIS. Serangan udara tersebut juga disebut telah meningkatkan korban warga sipil Suriah, menyebabkan sebagian besar dari mereka mengungsi dan berupaya menyelamatkan diri dengan melintasi perbatasan ke Turki.

Koalisi pemberontak utama di Suriah menyatakan bersedia menerima gencatan senjata sementara, tetapi hanya jika Rusia menghentikan serangan udaranya dan pemerintah Suriah mengakhiri ofensifnya di dekat perbatasan Suriah-Turki.

Rusia telah menyatakan tidak akan menghentikan serangan udara terhadap apa yang disebutnya sebagai target teroris di Suriah, bahkan jika ada kesepakatan internasional mengenai gencatan senjata sementara. Amerika Serikat dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam upaya mengakhiri perang saudara di Suriah menyatakan sebagian besar bom Rusia ditujukan terhadap pemberontak yang memerangi pemerintah Suriah, bukannya teroris ISIS.

Para pejabat Amerika telah mengeluarkan pernyataan berhati-hati mengenai percakapan antara Kerry dan Lavrov hari Sabtu (20/2) lalu, dengan mengevaluasi tugas dua tim yang bekerja di Jenewa mengenai krisis Suriah.

Satu tim membahas kebutuhan mendesak untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil yang terperangkap dalam perang saudara di Suriah, dan tim lainnya membahas gencatan senjata sementara yang akan mengarah pada gencatan senjata resmi dan penuh.

Kedua pihak sependapat telah ada sejumlah kemajuan dalam pengiriman bantuan ke permukiman-permukiman warga sipil yang dikepung oleh pasukan pemerintah Suriah dan sekutu-sekutu mereka. Menurut sebuah pernyataan Amerika, kelompok-kelompok kemanusiaan memerlukan akses langsung ke wilayah-wilayah lainnya, dan bahwa pengiriman pada masa mendatang harus “dilanjutkan tanpa hambatan.”

Koalisi pemberontak Suriah yang dikenal sebagai Komite Perundingan Tinggi (High Negotiations Committee) bertemu di Arab Saudi hari Sabtu dan mengecam aksi militer Rusia yang mendukung pemerintah Damaskus. Koalisi menyatakan Rusia telah “menunjukkan penghinaan terhadap masyarakat internasional dan mengabaikan hidup warga Suriah.” [uh/ab]

XS
SM
MD
LG