Tautan-tautan Akses

Asia Dorong Lonjakan Perdagangan Senjata Global


Anggaran militer di wilayah Asia Pasifik, yang termasuk China, India dan Indonesia, akan naik 35 persen menjadi US$501 miliar pada delapan tahun mendatang. (Foto: Dok)

Anggaran militer di wilayah Asia Pasifik, yang termasuk China, India dan Indonesia, akan naik 35 persen menjadi US$501 miliar pada delapan tahun mendatang. (Foto: Dok)

Negara-negara Asia akan menjadi wilayah dengan anggaran pertahanan terbesar dan mendorong ledakan perdagangan senjata global.

Kekuatan-kekuatan di Asia menyalip Amerika Serikat dan akan menjadi wilayah dengan anggaran terbesar untuk pertahanan pada 2021 dan mendorong ‘ledakan’ perdagangan senjata global, menurut sebuah studi.

Perdagangan senjata global melonjak 30 persen menjadi US$73,5 miliar antara 2008 dan 2012 meski ada kelesuan ekonomi, didorong oleh kenaikan ekspor dari China dan permintaan dari negara-negara seperti India, dan hal ini akan naik dua kali lipat pada 2029, menurut lembaga konsultan pertahanan dan keamanan IHS Jane’s pada Selasa (25/6).

“Anggaran beralih ke Timur dan ada peningkatan dalam kompetisi perdagangan senjata global. Ledakan ini adalah yang terbesar di dunia yang pernah terjadi,” ujar Paul Burton, manajer senior di IHS Jane’s, dengan studi yang mengamati 34.000 program-program pembelian senjata.

Amerika Serikat memiliki pengeluaran pertahan terbesar dalam 10 tahun terakhir, namun pemotongan anggaran di Washington, seiring penarikan pasukan dari negara-negara seperti Afghanistan, menurunkan persentase menjadi hanya 30 persen pada 2021, di bawah Asia yang mencapai 31 persen.

Anggaran militer di wilayah Asia Pasifik, yang termasuk China, India dan Indonesia, akan naik 35 persen menjadi $501 miliar pada delapan tahun mendatang, dibandingkan penurunan 28 persen di AS menjadi $472 miliar dalam periode yang sama, menurut IHS Jane's.

“Perusahaan-perusahaan pertahanan di Barat tidak memiliki pilihan, ekspor atau menciut, namun ini bisa jadi dampak dari kematian mereka sendiri. Peluang-peluang di Timur adalah pedang bermata dua, mendorong tren yang mengancam dominasi AS dalam bidang pertahanan,” ujar Guy Anderson, analis utama senior di IHS Jane's.

Peningkatan anggaran pertahanan di China pada beberapa tahun terakhir mengkhawatirkan negara-negara tetangga seperti Jepang, yang saat ini terlibat dalam sengketa kepulauan tak berpenghuni dengan China, meski berulangkali ditegaskan bahwa tidak perlu ada kekhawatiran.

Jepang, juga India dan Korea Selatan, ada di antara negara-negara yang dirayu oleh para pembuat senjata seperti Lockheed Martin, Boeing dan BAE Systems, yang ingin menjual jet tempur dan peralatan lain untuk mengkompensasi pengurangan anggaran di pasar Barat. Namun kontrak-kontrak tersebut cenderung membutuhkan investasi dalam industri pertahanan pembeli.

India, misalnya, melakukan pembahasan secara eksklusif dengan Dassault Aviation dari Perancis untuk pembelian peralatan perang senilai $12 miliar dan ingin supaya 50 persen pekerjaan diberikan pada perusahaan-perusahaan India.

China diperkirakan meningkatkan anggaran pertahanan sebanyak 64 persen menjadi $207 miliar pada 2021, dibandingkan dengan India dan Indonesia yang masing-masing diperkirakan menaikkan anggaran sebesar 54 persen dan 113 persen, menurut studi tersebut.

Negara-negara ini ingin membangun industri-industri pertahanan yang tumbuh subur dan mampu mengembangkan peralatan modern seperti jet tempur dan pesawat induk, dan mungkin mengekspor “alat-alat kelas dunia” yang menyaingi Barat dalam kurun satu dekade sebagai hasil investasi mereka, menurut IHS Jane’s. (Reuters)
XS
SM
MD
LG