Tautan-tautan Akses

AS Tuduh Rwanda Ganggu Ketertiban di Burundi


Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Afrika, Linda Thomas-Greenfield memberikan kesaksian di Kongres AS (foto: dok).

Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Afrika, Linda Thomas-Greenfield memberikan kesaksian di Kongres AS (foto: dok).

Dua diplomat senior AS menuduh Rwanda melakukan kegiatan yang merusak ketertiban di negara tetangganya, Burundi.

Dua diplomat senior AS hari Rabu (10/2), menuduh Rwanda melakukan kegiatan yang merusak ketertiban di Burundi, di mana kekerasan politik telah menewaskan ratusan orang.

Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Afrika, Linda Thomas-Greenfield berbicara mengenai kekhawatirannya kepada Senat Komisi Hubungan Luar Negeri. Dia mengutip sejumlah laporan dari para pejabat AS di Afrika.

"Kami telah mengangkat masalah ini dengan pemerintah Rwanda dan mendorong mereka untuk memainkan peran produktif dan tidak melakukan apa pun yang mungkin bisa semakin membuat Burundi tidak stabil, " kata Thomas - Greenfield kepada para senator.

Diplomat tinggi lain, utusan AS untuk wilayah Great Lakes Afrika, Tom Perriello mengatakan, ada laporan yang dapat dipercaya, para pejabat Rwanda merekrut pengungsi Burundi di kamp-kamp Rwanda untuk bertempur melawan oposisi Burundi. Perriello mengatakan anak-anak adalah di antara pengungsi yang dilatih untuk bertempur.

Sebuah panel PBB menyampaikan tuduhan yang sama pekan lalu. Presiden Rwanda, Paul Kagame menuduh panel itu sebagai "kekanak-kanakan”.

Kekerasan politik dan kekacauan telah merajalela di Burundi sejak April lalu, ketika Presiden Pierre Nkurunziza mengatakan ia akan mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.

Pihak oposisi mengatakan, ini melanggar UU. Kekerasan itu telah menewaskan lebih dari 400 orang dan ratusan ribu lainnya lari menyelamatkan. Banyak dari mereka melarikan diri ke Rwanda.

Nkurunziza terpilih kembali dan dilantik pada bulan Agustus. [ps/jm]

XS
SM
MD
LG