Tautan-tautan Akses

AS

AS Tarik Sejumlah Agen CIA dari China


Direktur Inteljen Nasional AS, James Clapper memberi kesaksian di hadapan Komite Senat Amerika (foto: dok).

Direktur Inteljen Nasional AS, James Clapper memberi kesaksian di hadapan Komite Senat Amerika (foto: dok).

Sejumlah agen CIA telah ditarik dari China menyusul gelombang pencurian data melalui dunia maya secara besar-besaran awal tahun ini terhadap data pribadi lebih dari 21 juta pegawai pemerintah Amerika.

Surat kabar the Washington Post melaporkan hal itu dengan mengutip beberapa pejabat dan mantan pejabat Amerika. Beberapa pejabat yang berbicara secara rahasia mengatakan Badan Inteljen Amerika (CIA) menarik agen-agen itu dari Kedutaan Besar Amerika di Beijing.

Langkah itu diambil setelah pengumuman awal tahun ini tentang dua pencurian data secara besar-besaran dari Kantor Manajemen Pegawai Amerika (OPM) yang menyimpan data 21,5 juta pegawai dan mantan pegawai federal Amerika. OPM mengatakan informasi itu mencakup pemeriksaan latar belakang keamanan dan arsip sidik jari 5,6 juta orang.

Pejabat-pejabat Amerika menduga data itu dicuri sebagai upaya untuk mengidentifikasi mata-mata Amerika yang kemudian bisa direkrut atau dipaksa menyediakan informasi sensitif. Surat kabar the Washington Post mengutip Direktur Inteljen Nasional James Clapper yang mengatakan pencurian data OPM itu menimbulkan risiko signifikan terhadap upaya pengumpulan data inteljen Amerika.

Clapper mengatakan badan-badan inteljen belum mengetahui secara spesifik arsip siapa saja yang telah dicuri, tetapi skala pencurian ini menimbulkan “dampak yang sangat serius, dari sudut pandang komunitas intelijen dan berpotensi membuat dikenalinya orang-orang tertentu” yang selama ini menyamar.

Pejabat-pejabat Amerika mengaitkan pencurian data OPM itu pada China, tetapi belum menyatakan secara terbuka apakah mereka yakin pemerintah China bertanggungjawab atas hal itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei membantah bahwa China terlibat dalam peretasan itu dan mengatakan negaranya sendiri kerap menjadi korban serangan semacam itu.

“Pemerintah China dengan tegas menentang segala bentuk peretasan,” ujar Hong Lei kepada stasiun televisi CNN hari Rabu (30/9).

Laporan surat kabar the Washington Post itu diterbitkan tak lama setelah Clapper dan beberapa pejabat pertahanan dan intelijen senior memberi kesaksian di hadapan Komite Layanan Angkatan Bersenjata Senat hari Selasa (29/9).

The Washington Post menyatakan pejabat-pejabat itu diminta untuk menjelaskan kepada para anggota Kongres yang frustrasi, kebijakan Amerika guna menangkal serangan dunia maya oleh negara lain luar – seperti China.

Ditambahkan, Clapper berupaya membedakan antara peretasan data terhadap OPM dengan pencurian data lewat dunia maya terhadap rahasia perusahaan-perusahan Amerika untuk memperoleh keuntungan bagi industri negara bersangkutan.

Clapper mengatakan apa yang terjadi dalam kasus OPM – “betapa mengerikan sekali pun” - bukanlah serangan.

“Yang terjadi lebih merupakan bentuk pencurian atau spionase”. Kami juga melakukan spionase di dunia maya dan forum publik. Saya tidak akan mengatakan seberapa berhasil kami melakukan hal itu, tetapi lumayanlah,” ujar Clapper.

“Saya kira merupakan gagasan baik untuk setidaknya mengingat ungkapan bahwa kita seharusnya tidak mengecam orang yang melakukan sesuatu yang sama dengan yang kita lakukan.” [em/ds]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG