Tautan-tautan Akses

AS Prihatin atas Tewasnya Mantan Panglima Militer Lesotho


PM Thomas Thabane memasukkan kartu suara dalam pemilu di ibukota Lesotho, Maseru, 28 Februari lalu (foto: dok). Thabane kalah dalam pemilu dari PM Lesotho saat ini, Pakalitha Mosisili.

PM Thomas Thabane memasukkan kartu suara dalam pemilu di ibukota Lesotho, Maseru, 28 Februari lalu (foto: dok). Thabane kalah dalam pemilu dari PM Lesotho saat ini, Pakalitha Mosisili.

Diplomat Barat dan analis keamanan khawatir pembunuhan atas mantan panglima militer Lesotho, Maaparankoe Mahao, bisa memicu krisis keamanan di wilayah tersebut.

Amerika Serikat hari Senin (29/6) menyatakan "sangat prihatin" atas tewasnya mantan panglima militer Lesotho yang ditembak mati pekan lalu, sebuah insiden yang berisiko memicu ketidakstabilan politik di kerajaan kecil yang memiliki arti strategis bagi Afrika Selatan.

Media lokal melaporkan mantan Komandan Angkatan Bersenjata Lesotho, Maaparankoe Mahao ditembak mati oleh tentara di rumahnya hari Kamis (25/6). Pemerintah dan juru bicara militer Lesotho tidak memberikan pernyataan terkait insiden ini.

Mahao, sekutu mantan Perdana Menteri Lesotho Thomas Thabane, merupakan saingan panglima militer saat ini, Tlali Kamoli. Thabane pada bulan Agustus tahun lalu memecat Kamoli dan menggantikannya dengan Mahao yang memicu terjadinya kudeta, dan memaksa Thabane melarikan diri ke Afrika Selatan.

Thabane kemudian dikalahkan oleh Perdana Menteri Lesotho saat ini Pakalitha Mosisili pada pemilu yang ketat pada bulan Maret lalu. PM Mosisili segera mengembalikan jabatan Kamoli sebagai pemimpin angkatan bersenjata.

Diplomat Barat dan analis keamanan khawatir tewasnya Mahao dapat memicu krisis keamanan di negara berpenduduk 2 juta orang, yang telah terpukul oleh beberapa kudeta sejak merdeka dari Inggris pada tahun 1966.

"Insiden terbaru dan yang paling tragis ini adalah contoh penyalahgunaan kekuasaan dalam Angkatan Bersenjata Lesotho dan menyoroti kebutuhan mendesak akan perlunya reformasi sektor keamanan," demikian komentar John Kirby, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, dalam sebuah pernyataan.

Ekonomi Lesotho bergantung pada perjanjian perdagangan khusus dengan AS yang mendukung industri tekstil di sana. Pemerintah AS bisa membatalkan kesepakatan perdagangan dengan Lesotho, jika krisis keamanan ini semakin dalam, yang akan mengancam hilangnya puluhan ribu pekerjaan di negara kecil ini.

Afrika Selatan, yang mengelilingi wilayah Lesotho, khawatir meluasnya pengangguran bisa menghasilkan lebih banyak migrasi, yang akan menambah tekanan pada negara dengan ekonomi paling maju di kawasan Afrika ini.

Selain penerimaan dari ekspor dari produk tekstil dan pendapatan pajak, potensi besar Lesotho lainnya adalah air minum yang disalurkan melalui pipa ke Afrika Selatan, membuat negara kecil ini memiliki kepentingan strategis bagi Afrika Selatan.

Wakil Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa telah bertindak sebagai mediator untuk menengahi kekacauan politik terbaru di Lesotho. Sementara, Menteri Pertahanan Afrika Selatan Nosiviwe Mapisa-Nqakula bertemu dengan para pejabat pemerintah Lesotho di ibukota Maseru akhir pekan lalu, setelah Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma meluncurkan misi pencari fakta untuk menyelidiki kematian Mahao.

XS
SM
MD
LG