Tautan-tautan Akses

AS

AS Persiapkan Sanksi Ekonomi Terhadap Pelaku 'Cyber Theft'


Harian The Washington Post Minggu menyatakan pemerintahan presiden Barack Obama sedang mempersiapkan sanksi-sanksi ekonomi terhadap perusahaan-perusahaan China dan individu-individu yang mendapat keuntungan dari pencurian informasi lewat internet (cyber theft) rahasia perdagangan Amerika (Foto: ilustrasi).

Harian The Washington Post Minggu menyatakan pemerintahan presiden Barack Obama sedang mempersiapkan sanksi-sanksi ekonomi terhadap perusahaan-perusahaan China dan individu-individu yang mendapat keuntungan dari pencurian informasi lewat internet (cyber theft) rahasia perdagangan Amerika (Foto: ilustrasi).

Harian The Washington Post mengutip Biro Investigasi Federal (FBI) yang menyatakan kasus spionase ekonomi melonjak 53 persen tahun lalu, dan China bertanggung jawab atas sebagian besar kasus itu.

Harian The Washington Post Minggu menyatakan pemerintahan presiden Barack Obama sedang mempersiapkan sanksi-sanksi ekonomi terhadap perusahaan-perusahaan China dan individu-individu yang mendapat keuntungan dari pencurian informasi lewat internet (cyber theft) rahasia perdagangan Amerika.

Wartawan VOA Victor Beattie melaporkan akan ada tindakan menyusul perintah eksekutif Presiden Obama yang menyatakan aktivitas pencurian semacam itu sebagai situasi darurat nasional, sebelum kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping.

Surat kabar itu mengutip beberapa pejabat pemerintah yang mengatakan Amerika belum memutuskan untuk mengeluarkan sanksi-sanksi, yang dapat berupa pembekuan aset dan pemblokiran transaksi finansial mereka yang terlibat dalam peretasan. Namun mereka memperkirakan keputusan itu akan diambil dalam dua pekan mendatang, sekitar waktu kedatangan Presiden Xi dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke Washington.

Disebutkan bahwa pemilihan waktu untuk mengeluarkan sanksi-sanksi itu mengisyaratkan betapa frustrasinya para pejabat Amerika dalam menghadapi pencurian cyber yang terus menerus.

Menurut surat kabar itu, meskipun China bukan satu-satunya negara yang meretas jejaring komputer untuk mendapatkan rahasia dagang, sejauh ini negara itulah yang paling aktif. The Post mengutip Biro Investigasi Federal (FBI) yang menyatakan kasus spionase ekonomi melonjak 53 persen tahun lalu, dan China bertanggung jawab atas sebagian besar kasus itu.

The Post menyatakan tidak jelas berapa banyak perusahaan atau individu yang ditarget, meskipun seorang pejabat mengatakan kemungkinan perusahaan-perusahaan China besar dan multinasional. Disebutkan bahwa peretasan tahun lalu terhadap pangkalan data Kantor Manajemen Personel pemerintah Amerika tidak secara langsung menguntungkan industri China, tetapi seriusnya serangan itu membuat para pejabat harus mengambil tindakan tegas.

Dalam bulan Mei 2014, pihak berwenang menuduh lima perwira militer China dari unit peretasan rahasia 61398 mendapat akses ke jejaring komputer perusahaan nuklir, logam dan tenaga surya untuk mencuri rahasia dagang mereka.

Pada tahun 2013, perusahaan keamanan internet yang berbasis di Amerika, Mandiant, menuduh Beijing terlibat serangan cyber yang canggih terhadap perusahaan, pemerintah dan infrastruktur penting Amerika lainnya.

China telah membantah tuduhan tersebut dan menegaskan pihaknyalah yang menjadi korban serangan cyber. Pada tahun 2013, mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional Amerika Edward Snowden mengungkap program pengintaian massal rahasia secara global oleh intelijen Amerika.

Pada April lalu, Presiden Obama mengeluarkan perintah eksekutif mengenai peluncuran program sanksi-sanksi pertama untuk menerapkan hukuman finansial terhadap individu dan kelompok di luar Amerika Serikat yang terlibat peretasan. Ankit Panda, editor publikasi berita Asia Pasifik, The Diplomat, mengatakan, Amerika belum menyatakan perang cyber terhadap China.

"Menurut saya ini adalah upaya untuk mengatasi perilaku China, menerapkan hukuman, untuk menunjukkan kepada China akan ada hukuman bagi individu dan perusahaan yang dianggap terlibat spionase dan pencurian informasi lewat internet. Dan lihat, China telah mengemukakan argumen bahwa, terutama setelah pernyataan Snowden, mereka bukan satu-satunya negara yang melakukan ini," kata Ankit Panda.

"Amerika Serikat juga melakukannya. Tetapi menurut saya, Washington ingin menegaskan bahwa pengintaian untuk kepentingan keamanan nasional sama sekali berbeda dengan spionase. Saya pikir Washington telah menuduh militer China memfasilitasi pencurian hak milik intelektual Amerika demi kepentingan perusahaan-perusahaan China. Washington berusaha menegaskan dengan sanksi-sanksi ekonomi ini bahwa perilaku semacam itu tidak akan diterima," lanjutnya.

Tetapi The Post, mengutip para pejabat Amerika, menyatakan, meskipun sanksi-sanksi saja tidak akan mengubah perilaku China, jika ini diberlakukan bersama dengan tekanan diplomatik lainnya, penegakan hukum, militer dan intelijen, dampaknya akan terasa. Tetapi harian itu juga memperingatkan risikonya, termasuk pembalasan China.

Greg Austin, pakar China di Australian Center for Cyber-Security, mengatakan, sanksi-sanksi semacam itu akan diterapkan jika Washington dapat membuktikan ada individu atau entitas China lainnya yang jelas-jelas mendapat keuntungan kompetitif dari mencuri rahasia dagang Amerika.

Ia mengatakan sudah jelas intelijen China dan mitra-mitra globalnya mengumpulkan informasi perdagangan dalam jumlah sangat besar. Tetapi ia mempertanyakan seberapa cepat data itu dapat diubah menjadi keunggulan kompetitif oleh perusahaan-perusahaan China.

Austin juga menyatakan pemerintahan Obama perlu menentukan keseimbangan yang tepat, antara menarget perusahaan-perusahaan China tertentu dan retorika yang lebih keras mengenai keterlibatan pemerintah China dalam spionase perdagangan.

XS
SM
MD
LG