Tautan-tautan Akses

AS

AS Peringatkan Korea Utara untuk Tak Lakukan Provokasi


Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest memperingatkan Korea Utara untuk menahan diri dari tindakan provokatif (foto: dok).

Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest memperingatkan Korea Utara untuk menahan diri dari tindakan provokatif (foto: dok).

Gedung Putih mengeluarkan peringatan Selasa (15/9) setelah Korea Utara mengingatkan bahwa pihaknya setiap saat siap menggunakan senjata nuklirnya terhadap Amerika.

Amerika memperingatkan Korea Utara jangan melakukan “provokasi yang tidak bertanggung jawab”. Peringatan ini diberikan setelah Pyongyang mengumumkan telah memulai kembali “operasi normal” di kompleks nuklirnya Yongbyon.

Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest mengatakan hari Selasa (15/9), bahwa Korea Utara seharusnya menahan diri dari tindakan yang hanya dapat “memperburuk ketegangan kawasan”, dan seharusnya memusatkan perhatian untuk memenuhi kewajiban dan komitmen internasionalnya."

Gedung Putih mengeluarkan peringatan itu setelah Korea Utara mengingatkan bahwa pihaknya setiap saat siap menggunakan senjata nuklirnya terhadap Amerika.

Peringatan Korea Utara itu yang dimuat dalam publikasi Korean Central News Agency (KCNA) dikeluarkan bersamaan dengan ancaman Pyongyang akan menggunakan teknologi misil balistik yang terlarang unuk meluncurkan satelit cuaca ke dalam orbit.

Eernest mengatakan posisi Amerika dan dunia tetap tidak berobah yaitu Korea Utara tidak akan diterima sebagai satu negara nuklir.

Ancaman Korea Utara itu merupakan kembalinya retorika agresif yang sering digunakan oleh Korea Utara untuk memperoleh konsesi politik dari Korea Selatan dan Amerika Serikat, dua musuh utamanya.

“Semua fasilitas nuklir Yongbyon termasuk pabrik pengayaan uranium dan reaktor 5 megawat ditata ulang, diubah atau disesuaikan dan mulai beroperasi normal.” Demikian menurut KCNA.

Yongbyon adalah pusat yang menghasilkan bahan yang digunakan dalam tiga uji coba nuklir Korea Utara. Kompleks itu ditutup pada tahun 2007 sebagai bagian dari kesepakatan dengan Amerika, tapi beberapa bagiannya kemudian dioperasikan lagi.

Amerika dan negara-negara sekutunya dipandang sebagai sasaran utama senjata dan rudal balistik nuklir Korea Utara.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG