Tautan-tautan Akses

AS, PBB Prihatin Situasi di Rakhine, Myanmar


Anak-anak muslim Rohingya tinggal di penampungan pengungsi sementara di kota Sittwe utara, negara bagian Rakhine, Myanmar (2/4).

Anak-anak muslim Rohingya tinggal di penampungan pengungsi sementara di kota Sittwe utara, negara bagian Rakhine, Myanmar (2/4).

Kantor PBB urusan Kemanusiaan hari Kamis (3/4) menyatakan prihatin dengan dampak kemanusiaan bagi penduduk etnis Rohingya di Myanmar barat.

Amerika menyerukan pemerintah Myanmar, untuk mengizinkan kelompok-kelompok bantuan internasional untuk kembali ke negara bagian Rakhine di Myanmar barat yang bergolak.

Semua kelompok bantuan internasional, serta pekerja PBB, dievakuasi dari wilayah tersebut pekan lalu setelah massa menyerang bangunan milik kelompok pemberi bantuan asing.

Juru bicara Kedutaan Besar Amerika Andrew Leahy mengatakan kepada VOA hari Kamis bahwa Amerika ingin larangan perjalanan dicabut, dengan mengizinkan para pekerja bantuan untuk kembali ke Rakhine saja masih belum cukup.

Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN-OCHA) menyatakan prihatin dengan dampak kemanusiaan bagi penduduk di negara bagian Rakhine. Juru Bicara Pierre Peron mengatakan kepada VOA bahwa ia telah melihat dampaknya terhadap penduduk di Rakhine.

Minggu lalu, sekelompok besar pengikut ajaran Budha menyerang kantor sebuah kelompok bantuan internasional di negara bagian Rakhine yang rusuh. Ratusan orang tersebut mengepung dan melempari kantor Malteser International dengan batu hari Rabu malam (26/3), di kota Sittwe.

Para pejabat mengatakan setelah usaha untuk membubarkan kerumunan itu gagal, polisi melepaskan tembakan peringatan ke udara. Tidak ada seorangpun pekerja bantuan internasional yang dilaporkan terluka.
XS
SM
MD
LG