Tautan-tautan Akses

AS Luncurkan Proyek untuk Hormati Tentara yang Gugur dalam Perang Saudara

  • Joe de Capua

Red maple yang warna-warnanya senantiasa terlihat cantik pada setiap pergantian musimadalah salah satu jenis pohon yang ditanam oleh Living Legacy Project untuk menghormati tentara Amerika yang tewas dalam Perang Saudara (foto: Dok).

Red maple yang warna-warnanya senantiasa terlihat cantik pada setiap pergantian musimadalah salah satu jenis pohon yang ditanam oleh Living Legacy Project untuk menghormati tentara Amerika yang tewas dalam Perang Saudara (foto: Dok).

Amerika meluncurkan sebuah proyek baru yang disebut Living Legacy Project untuk menghormati para tentara yang tewas dalam Perang Saudara tahun 1861-1865.

Cate Magennis Wyatt mengatakan warga Amerika tidak boleh melupakan sejarah.

“Kita tidak bisa menghapus masa lalu. Kita tidak bisa sekedar berasumsi saja bahwa kisah-kisah tentang mereka yang hidup sebelum kita pasti akan dikenang. Jika kita tidak tahu tentang awal mula kisah itu, kita pasti sulit memahami ide-ide awal berdirinya Amerika,” ujarnya.

Magennis Wyatt adalah pendiri dan ketua organisasi Journey Through Hallowed Ground Partnership.

“Journey Through Hallowed Ground Partnership adalah organisasi nirlaba yang dibentuk tahun 2005 untuk meningkatkan kesadaran tentang kebesaran sejarah Amerika, warisan dan budaya yang ditemukan di wilayah Gettysburg, Pennsylvania, Maryland sampai di Monticello, Virginia,” ujarnya lagi.

Monticello adalah nama kediaman presiden ketiga Amerika, Thomas Jefferson.

Magennis Wyatt mengatakan, rentangan wilayah yang panjangnya hampir 290 kilometer, atau 180 mil, itu sangat berbeda dari tempat lainnya.

Meskipun wilayah ini kecil dibandingkan dengan luasnya Amerika, wilayah ini kaya akan sejarah.

“Di wilayah ini ada sembilan kediaman presiden Amerika, mulai dari Jefferson, Madison, Monroe, sampai Eisenhower. Ada tempat-tempat bersejarah dari Perang Prancis dan Indian, Perang Kemerdekaan, Perang tahun 1812, dan medan pertempuran terbesar Perang Saudara,” paparnya lagi.

Perang Saudara inilah yang menjadi fokus Living Legacy Project. Tujuannya adalah menanam satu pohon bagi setiap tentara yang tewas.

Pohon-pohon pertama, yang jumlahnya sekitar 400, sudah ditanam di Oatlands, Virginia, tempat milik National Trust, yang terletak di tengah wilayah Journey Through Hallowed Ground National Scenic Byway.

Jenis-jenis pohon asli Amerika yang ditanam termasuk red bud, red maple, red cedar evergreen, dan red twig dogwood, yang warna-warnanya senantiasa terlihat cantik pada setiap pergantian musim.

Sekarang semakin banyak sejarawan mengatakan jumlah tentara yang tewas jauh lebih banyak, mungkin 750.000 orang. Mereka mendasarkan perkiraan itu pada angka sensus dan fakta bahwa banyak tentara mungkin tewas setelah pertempuran itu usai akibat luka-luka.

Magennis mengatakan menganggap biasa-biasa saja apa yang telah diperjuangkan tentara-tentara itu berarti kita kurang menghargai apa maknanya jadi orang Amerika.

Setelah perang usai tahun 1865, perbudakan berakhir. Namun dibutuhkan ratusan tahun untuk mengakhiri pemisahan ras dan menjamin hak bersuara di Amerika. Magennis-Wyaatt berharap, 50 tahun lagi, pada peringatan perang saudara ke-200, pemahaman sejarah itu akan jauh lebih mendalam.

XS
SM
MD
LG