Tautan-tautan Akses

AS: Korban Sipil di Suriah Meningkat karena Serangan Rusia


Zahran Alloush (tengah), kepala kelompok oposisi yang disebut Jaysh al Islam dalam konferensi pers di Douma (foto: dok). Alloush tewas dalam serangan udara Rusia di Suriah.

Zahran Alloush (tengah), kepala kelompok oposisi yang disebut Jaysh al Islam dalam konferensi pers di Douma (foto: dok). Alloush tewas dalam serangan udara Rusia di Suriah.

Ratusan warga sipil dilaporkan tewas oleh serangan misil Rusia terhadap para petugas medis darurat, rumah sakit, sekolah dan pasar.

Pemerintah Obama mengatakan ada “peningkatan yang merisaukan” dalam jumlah korban sipil di Suriah sejak Rusia memulai serangan udara bulan hampir tiga bulan lalu.

Kelompok-kelompok HAM melaporkan ratusan warga sipil tewas oleh serangan misil Rusia terhadap para petugas medis darurat, rumah sakit, sekolah dan pasar.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner hari Selasa (29/12) mengatakan, Menlu AS John Kerry mengemukakan masalah itu lewat pembicaraan telpon dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov.

“Kami terus mendesak semua pihak dalam konflik agar mengambil semua cara yang mungkin untuk mengurangi resiko mencederai warga sipil dan mematuhi semua kewajiban berdasarkan hukum internasional," kata Toner.

Rusia menyangkal telah menyebabkan kematian warga sipil di Suriah. Katanya serangan udara terhadap apa yang disebutnya “teroris”, dikoordinasi secara hati-hati dengan militer Suriah untuk menghindari sasaran sipil.

Rusia mengatakan bahwa misinya di Suriah ditujukan terhadap ISIS.

Namun, Amerika mengatakan, Rusia mengarahkan sasarannya terhadap pihak moderat dan berusaha mendukung pemerintahan Presiden Suriah yang sedang goyah. Toner juga mengatakan pembunuhan seorang pemimpin pemberontak utama Suriah pekan lalu memperumit usaha mengadakan gencatan senjata.

Serangan udara oleh pasukan Rusia atau Suriah menewaskan Zahran Alloush, kepala kelompok oposisi yang disebut Jaysh al Islam. Kelompok itu berjuang melawan ISIS dan mendukung penyelesaian politik.

Toner menyebut pembunuhan semacam itu “tidak produktif”.

"Kami melihat tindakan-tindakan semacam itu, dan berharap tindakan itu tidak memberikan pesan yang keliru kepada anggota-anggota oposisi Suriah lainnya, yang telah pergi ke Riyadh, dan telah menyatakan kesediaan untuk turut dalam proses perdamaian itu," ujarnya.

PBB berusaha memulai pembicaraan internasional mengenai Suriah tanggal 25 Januari nanti. PBB telah menengahi dua perundingan perdamaian antara pemerintah Suriah dan pemberontak awal tahun lalu, tetapi pembicaraan itu gagal dan tidak banyak kemajuan dicapai. [sp/ii]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG