Tautan-tautan Akses

AS Khawatir Jenazah, Bukti Dihilangkan Dari Lokasi Pesawat Jatuh di Ukraina


Pemberontak pro-Rusia menjaga lokasi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines dekat desa Hrabove, Ukraina timur (19/7). (AP/Evgeniy Maloletka)

Pemberontak pro-Rusia menjaga lokasi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines dekat desa Hrabove, Ukraina timur (19/7). (AP/Evgeniy Maloletka)

Sejumlah laporan menyebutkan pemberontak telah memindahkan beberapa jenazah dan bukti lainnya sehingga bisa merusak penyelidikan.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry mengatakan negaranya “sangat khawatir” tentang laporan bahwa ada puing-puing dan jenazah-jenazah dari pesawat Malaysia Airlines yang ditembak jatuh yang telah dipindahkan dari lokasi kejadian di Ukraina timur.

Departemen Luar Negeri Amerika mengatakan Kerry berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov lewat telpon Sabtu (19/7). Kepada Lavrov, Kerry mengatakan Amerika juga khawatir karena para pemantau Eropa tidak diberi akses memadai ke lokasi kejadian itu.

Kerry juga kembali mendesak Rusia agar segera mengambil langkah untuk menghentikan arus senjata dan tentara bagi separatis pro-Rusia di Ukraina timur.

Kantor berita Rusia Interfax mengatakan Lavrov setuju bahwa semua bukti fisik – termasuk kotak hitam yang penting – harus bisa diakses pihak penyelidik.

Berbicara kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan ia “terkejut” melihat gambar-gambar pemberontak yang memilah barang-barang milik para korban.

Sejumlah laporan menyebutkan pemberontak telah memindahkan beberapa jenazah dan bukti lainnya sehingga bisa merusak penyelidikan.

Seorang ketua kelompok pemberontak membantah melakukan hal itu.

Bukti-bukti sejauh ini menunjukkan pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH17 itu ditembak jatuh dengan rudal Kamis di wilayah Donetsk, Ukraina, yang dikuasai separatis pro-Rusia. Ke-298 penumpangnya tewas, sebagian besar warga negara Belanda.

Ukraina mengatakan pihaknya memiliki "bukti kuat" bahwa pemberontak pro-Rusia menggunakan peluncur rudal berteknologi tinggi dan dengan pelatihan Rusia untuk menembak jatuh pesawat itu.

Perdana Menteri Inggris David Cameron, menulis di surat kabar The Sunday Times London, mengatakan jika itu benar, itu adalah akibat langsung Rusia mendestabilisasi satu negara berdaulat serta melatih dan mempersenjatai milisi. Cameron mengatakan terlalu banyak negara Eropa yang selama ini enggan menghadapi apa yang terjadi di Ukraina timur. Ia menulis, Barat harus mengubah pendekatannya terhadap Rusia sehingga kekuatan, pengaruh dan sumber daya Barat diperhitungkan.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG