Tautan-tautan Akses

AS

AS: Iran Banyak Sponsori Terorisme Global pada Tahun 2012


President Iran Mahmoud Ahmadinejad berpidato dalam Konferensi Internasional Pertarungan Global Melawan Terorisme di Tehran, Iran (25/7/2011). Dalam laporan tahunannya, AS menuduh Iran banyak mendukung terorisme global pada tahun 2012.

President Iran Mahmoud Ahmadinejad berpidato dalam Konferensi Internasional Pertarungan Global Melawan Terorisme di Tehran, Iran (25/7/2011). Dalam laporan tahunannya, AS menuduh Iran banyak mendukung terorisme global pada tahun 2012.

AS mengatakan tahun 2012 menandai maraknya terorisme yang disponsori Iran, termasuk dukungannya kepada rejim Suriah yang sudah dua tahun menumpas rakyatnya sendiri.

Departemen Luar Negeri menyampaikan tuduhan tersebut dalam laporan tahunannya kepada Kongres mengenai situasi terorisme global.

Laporan itu mengatakan baik Iran maupun kelompok Hizbollah yang berbasis di Lebanon, tahun lalu sangat aktif merencanakan kegiatan teroris dan menyediakan dukungan luas bagi rejim Suriah dalam penumpasan terhadap rakyatnya.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika, Jennifer Psaki hari Kamis mengatakan, Amerika prihatin dengan keterlibatan para pejuang asing dalam konflik Suriah.

“Kita sangat prihatin mengenai para pejuang asing, akan keberadaan mereka di Suriah atau merambatnya kekerasan ke negara-negara tetangga. Ini adalah yang sudah berulangkali disampaikan. Kita sudah menyampaikan secara jelas keprihatinan kita akan ketidakstabilan di kawasan itu yang disebabkan oleh krisis di Suriah,” papar Psaki.

Laporan itu juga mengatakan komando pusat al-Qaida di Pakistan dan afiliasinya di Yaman melemah pada tahun 2012. Tapi sebagai akibatnya beberapa kelompok di jaringan itu menjadi lebih independen.

Presiden Amerika Barack Obama mengamati hal serupa dalam pidato-pidato pentingnya mengenai kontra terorisme minggu lalu.

“Itu artinya kita akan menghadapi lebih banyak ancaman-ancaman yang bersifat lokal seperti yang kita saksikan di Benghazi atau di fasilitas minyak BP di Aljazair dimana kelompok-kelompok setempat, mungkin afiliasi lepas dari jaringan regional melancarkan serangan-serangan secara berkala terhadap diplomat, perusahaan dan sasaran lunak pihak Barat lainnya atau menculik dan melakukan kegiatan kriminal lain untuk mendanai kegiatan mereka,” kata Obama.

Laporan Departemen Luar negeri mengatakan serangan teroris terjadi di 85 negara selama tahun 2012 sebagian besar di Afghanistan, Pakistan dan Irak.

Analis Timur Tengah Matthew Duss dari Center for American Progress mengaitkan peningkatan kekerasan di Irak baru-baru ini dengan pergolakan di Suriah.

“Pergerakan para pejuang, barang dan dibukanya kembali jalur- jalur penyelundupan yang dilalui pejuang di Suriah menuju Irak, dalam beberapa kasus kini bergerak ke arah berlawanan. Tapi tetap saja, setiap kali ada situasi dimana ada daerah yang tidak berpemerintahan dalam situasi konflik, akan ada peningkatan situasi seperti ini,” kata Duss.

Duss mengatakan kekerasan di Irak umumnya merupakan cerminan dari berlanjutnya perpecahan politik yang tidak diatasi melalui jalur-jalur politik yang semestinya. Ia mengatakan mendukung kelompok penentang bahkan sebagian militan, bisa memperlemah organisasi teroris.

Laporan Departemen Luar Negeri mengatakan upaya jangka panjang untuk memerangi teroris harus mencakup pembentukan kemampuan berskala dunia untuk melawan ideologi yang memicu aksi terorisme.
XS
SM
MD
LG