Tautan-tautan Akses

AS Luncurkan Kampanye Lawan Alzheimer

  • Jessica Berman

Sekitar 5,4 juta warga Amerika menderita Alzheimer atau bentuk lain demensia atau pikun. Kampanye untuk melawan penyakit ini sedang digalakkan.

Sekitar 5,4 juta warga Amerika menderita Alzheimer atau bentuk lain demensia atau pikun. Kampanye untuk melawan penyakit ini sedang digalakkan.

Pemerintah AS meluncurkan kampanye melawan Alzheimer, salah satunya dengan menyediakan obat pencegah penyakit yang merusak otak itu menjelang pertengahan dekade mendatang.

Dua ujicoba pencegahan penyakit Alzheimer mendapat dana dari Institut Kesehatan Nasional, atau NIH, sebagai bagian dari strategi nasional baru pemerintahan Obama untuk menghadapi masalah yang semakin berkembang akibat penyakit Alzheimer di Amerika dan seluruh dunia.

Sekitar 5,4 juta warga Amerika menderita Alzheimer atau bentuk lain demensia atau pikun. Jumlah itu diperkirakan akan bertambah dengan pesat seiring bertambahnya usia penduduk Amerika, dan akan mencapai 7,7 juta pada tahun 2030.

Ketika itu, mungkin 66 juta orang di seluruh dunia akan mengidap Alzheimer dan gangguan demensia lain. “Rencana Nasional Melawan Alzheimer”, demikian disebutnya, mengimbau ilmuwan untuk membuat obat pencegah penyakit itu menjelang tahun 2025.

NIH menyiapkan dana 50 juta dolar untuk membantu mendanai upaya tersebut. Direktur NIH Francis Collins mengatakan penelitian itu era baru dalam penelitian penyakit Alzheimer. "Kita telah mengetahui lebih banyak tentang penyakit ini dalam dua tahun terakhir dibandingkan sebelumnya. Dan kini tujuannya adalah memanfaatkan hal itu dan menerjemahkannya menjadi obat," ungkap Collins.

Collins berbicara dalam konferensi peneliti utama Alzheimer se-Amerika yang disponsori NIH. Ilmuwan pada Institute Alzheimer Banner, Arizona mengumumkan akan melakukan ujicoba pada manusia awal tahun depan obat percobaan, yang disebut crenezumab, yang diharapkan akan mencegah penyakit itu.

Penelitian itu akan melibatkan anggota keluarga besar yang tinggal di desa-desa terpencil, yang terpisah ratusan kilometer satu sama lainnya, dekat Medellin, Kolombia. Sebagian dari ribuan anggota keluarga itu punya mutasi genetik langka yang menyebabkan Alzheimer dini.

Mereka yang memiliki cacat genetik itu mulai pikun ketika berusia pertengahan 40-an dan terkena Alzheimer sepenuhnya ketika berusia awal 50-an tahun. Pierre Tariot dari Banner Institut adalah salah seorang peneliti utama. Menjawab pertanyaan terkait etika yang diajukan beberapa kritikus tentang pengujian obat pada orang sehat di negara berkembang yang miskin, Tariot mengatakan semua peserta penelitian telah sepenuhnya diberitahu tentang kemungkinan obat itu tidak ampuh, atau mereka mungkin mendapat plasebo yang tidak mengandung crenezumab.

Cremezumab adalah vaksin yang menarget plak otak atau timbunan protein amiloid yang dianggap memicu munculnya Alzheimer, menurut Eric Reiman dari lembaga Banner, yang akan membantu memimpin penelitian tersebut.

Ujicoba di Kolombia dengan dana 100 juta dolar itu dijadwalkan berlangsung lima tahun, tetapi peneliti memperkirakan mereka bisa melihat hasilnya dalam dua tahun. NIH menyediakan 16 juta dolar untuk mendukung penelitian itu; sedangkan Banner juga menyediakan 15 juta dolar. Bagian besar pendanaan, sekitar 65 juta dolar, akan diberikan oleh produsen obat Amerika, Genentech, yang akan membuat obat itu.

Percobaan kedua terhadap obat Alzheimer, juga didanai NIH, menunjukkan, obat insulin yang disemprotkan ke hidung dan digunakan dua kali sehari oleh penderita pikun ringan, tampaknya mengobati gejala itu, dan memberi harapan bahwa Alzheimer bisa diobati atau bahkan dicegah.
XS
SM
MD
LG