Tautan-tautan Akses

AS

AS Evaluasi Hari Columbus, Fokus pada Penderitaan Suku Asli


Anak-anak muda warga asli Amerika dalam pertemuan dengan Ibu Negara Michelle Obama di Washington (9/7). (Foto: AP/Jacquelyn Martin)

Anak-anak muda warga asli Amerika dalam pertemuan dengan Ibu Negara Michelle Obama di Washington (9/7). (Foto: AP/Jacquelyn Martin)

Banyak pengecam menyebut Hari Columbus menghormati seorang pria yang menyimbolkan penindasan suku asli selama berabad-abad oleh orang-orang Eropa.

Sekitar 6,4 kilometer dari parade Christopher Columbus terbesar di dunia di pusat Manhattan, Senin (12/10), ratusan warga asli Amerika dan para pendukung mereka akan mengadakan doa terbit fajar untuk menghormati nenek moyang yang dibunuh atau diusir dari tanah mereka.

Upacara itu akan dimulai pada hari terakhir akhir pekan "powwow" di Randall's Island di East River, New York, sebuah acara yang menampilkan tarian tradisional, dongeng dan seni.

​Powwow yang diadakan oleh Dewan Seni Warga Asli Amerika Redhawk adalah perayaan budaya warga asli Amerika dan titik balik dari parade tersebut, yang oleh banyak pengecam disebut-sebut menghormati seorang pria yang menyimbolkan penindasan suku asli selama berabad-abad oleh orang-orang Eropa.

Para penyelenggara berharap dapat menarik perhatian publik pada isu-isu ketidakadilan sosial dan ekonomi yang telah mendera warga asli Amerika sejak Christopher Columbus memimpin ekspedisi yang membawanya ke "Dunia Baru" tahun 1492.

Acara powwow telah diselenggarakan selama 20 tahun terakhir, namun tidak pernah pada Hari Columbus. Ini merupakan bagian dari inisiatif warga asli Amerika dan para pendukung mereka di seluruh negeri, yang mencoba merombak Hari Columbus sebagai hari libur yang menghormati orang-orang dari suku asli, daripada para penjajah Eropa. Upaya-upaya mereka telah berhasil di beberapa kota di AS tahun ini.

"Fakta bahwa Amerika menghormati pria ini sungguh gila," ujar Cliff Matias, ketua penyelenggara powwow dan warga Brooklyn sejak lahir yang mengaku berdarah suku Taino dan Kichwa dari Amerika Latin. "Sungguh sangat tidak masuk akal."

Namun untuk banyak warga Amerika keturunan Italia, yang sangat bangga dengan akarnya sebagai penjelajah Italia, hari libur itu merupakan perayaan warisan dan peran mereka dalam membangun Amerika. Banyak di antara mereka yang merupakan pendukung setia untuk mempertahankan hari libur tradisional tersebut.

Penghapusan Hari Columbus

Berkeley, California, merupakan kota pertama yang menghapus perayaan Hari Columbus, menggantikannya tahun 1992 dengan Hari Orang-orang Suku Asli. Tren ini secara perlahan disambut di seluruh negeri.

Tahun lalu, Minneapolis dan Seattle menjadi dua kota besar pertama AS yang menetapkan Senin kedua bulan Oktober sebagai Hari Orang-orang Suku Asli Amerika.

Bulan ini, Portland, Oregon, Albuquerque, New Mexico dan Bexar County, Texas, memutuskan menghapuskan Hari Columbus dan menggantikannya dengan hari libur baru. Oklahoma City berencana melakukan pemungutan suara untuk usulan serupa bulan ini.

Hari Columbus menjadi hari libur federal AS tahun 1937. Pemerintah federal dan sekitar setengah dari negara-negara bagian AS memberi pegawai-pegawai negeri cuti berbayar, menurut Dewan Pemerintah Negara Bagian. Sekolah-sekolah dan kantor pemerintahan umumnya tutup, namun banyak kantor bisnis swasta tetap buka.

Dukungan untuk Hari Suku Asli telah meningkat dalam tahun-tahun terakhir, seiring dengan tumbuhnya persepsi bahwa gelombang pemukiman orang Eropa di belahan Bumi bagian Barat merupakan genosida populasi warga asli.

Gino Barichello, yang menghadiri pertemuan-pertemuan dewan kota Berkeley tahun 1990an yang menghasilkan penetapan Hari Suku Asli, mengatakan ia bangga melihat tren saat ini.

"Adanya pengakuan dan perayaan semua budaya suku asli di AS, dan Berkeley merupakan salah satu katalis yang memimpin hal itu, sangat menyenangkan," ujar Barichello, yang mengatakan ia setengah Italia dan setengah Muscogee, suku asli Amerika di Oklahoma.

Kota New York, dengan populasi Italia Amerika terbesar yang mencapai 1,9 juta orang, menarik hampir 35.000 orang untuk ikut berparade dan hampir 1 juta penonton dalam parade tahunan Hari Columbus.

Yayasan Warga Negara Columbus, organisasi nirlaba yang menyelenggarakan parade tersebut, mengatakan dalam lamannya bahwa acara itu "merayakan semangat penjelajahan dan keberanian yang menginspirasikan ekspedisi Christopher Columbus tahun 1492 dan kontribusi-kontribusi penting warga Italia Amerika untuk Amerika Serikat."

John Viola, presiden Yayasan Nasional Italia Amerika di Washington, D.C., mengatakan bahwa penggantian nama Hari Columbus menghina 25 juta orang Italia Amerika dan leluhur mereka. Ia mengatakan komunitas Italia Amerika merasa diremehkan oleh kota-kota yang menghapuskan Hari Columbus.

"Kami adalah korban kerusakan dari tren ini," ujarnya.

Dewan kepemimpinan yayasan ini akan membahas isu tersebut bulan ini.

Salah satu usulan yang diperkirakan akan muncul dalam pertemuan itu adalah perubahan nama menjadi Hari Italia Amerika, menghapuskan sorotan pada Columbus dan para penjelajah Eropa lainnya. Dengan usulan ini, Hari Orang-orang Suku Asli akan dirayakan pada hari yang berbeda.

"Saya kira banyak orang yakin ada jalan tengah yang bisa diambil," ujar Viola. [hd]

XS
SM
MD
LG