Tautan-tautan Akses

AS, China Desak Iran Tanggapi 'Proposal Nuklir' Secara Positif


Menlu AS John Kerry (kiri) dan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif (kanan) bertemu di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York, Kamis (26/9).

Menlu AS John Kerry (kiri) dan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif (kanan) bertemu di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York, Kamis (26/9).

AS dan China sepakat bahwa Teheran perlu menanggapi secara positif proposal nuklir yang diajukan negara-negara besar menjelang pertemuan hari Kamis antara Iran dan lima anggota tetap DK PBB dan Jerman.

Seorang pejabat Amerika mengatakan Washington dan Beijing "yakin Iran harus bekerjasama dengan P5 +1," merujuk kepada Amerika, Inggris, Perancis, China, Rusia dan Jerman.

Para pemimpin dunia dari kelompok itu mengadakan pembicaraan nuklir hari Kamis dengan diplomat tertinggi Iran, di tengah isyarat bahwa Teheran berupaya menegosiasikan penyelesaian atas program nuklirnya yang kontroversial.

Sebagian besar pengamat tidak mengharapkan adanya terobosan dalam pertemuan tersebut, namun para diplomat berharap dimulainya kembali pembicaraan nuklir P5+1, yang terakhir kali diadakan pada bulan April.

Pertemuan itu akan menandai interaksi tingkat tertinggi antara Washington dan Teheran dalam enam tahun dan akan menjadi salah satu dari sedikit pertemuan antara pejabat senior kedua negara sejak hubungan diplomatik putus pada tahun 1980.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry dan mitranya dari Iran Javad Zarif akan hadir, begitu pula menteri luar negeri Inggris, Prancis, China, Rusia dan Jerman. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton akan menjadi tuan rumah pembicaraan itu.

Diskusi tingkat tinggi itu diadakan menyusul pernyataan Presiden Iran Hassan Rouhani, ketika berpidato pada sebuah pertemuan Majelis Umum PBB mengenai perlucutan senjata, yang mengusulkan perjanjian komprehensif yang melarang semua senjata nuklir.

Menggambarkan perlucutan senjata nuklir Iran sebagai "prioritas tertinggi Iran," Rouhani menyerukan Israel untuk bergabung dalam Perjanjian Non-Proliferasi dan menempatkan senjata nuklirnya di bawah pengawasan internasional.

Pemimpin Iran itu memberitahu harian 'The Washington Post' hari Rabu (25/9) dia menginginkan dicapainya kesepakatan tentang program nuklir negaranya dalam waktu tiga sampai enam bulan, dan mengatakan "satu-satunya cara agar ada kemajuan" adalah dengan diterapkannya tenggat waktu dalam pembicaraan itu.

Dina Esfandiary dari program Non-Proliferasi dan Perlucutan Senjata di Institut Internasional bagi Studi Strategis mengatakan kepada VOA tenggat waktu itu tidak realistis, mengingat banyaknya hambatan yang perlu diatasi.

Esfandiary mengatakan, "Fakta bahwa ia mengajukan tenggat waktu yang singkat cukup positif, karena itu berarti Iran bersedia mengesampingkan segala yang mereka miliki dalam negosiasi ini."

Esfandiary mengatakan jangka waktu yang singkat bagi Rouhani untuk mencapai kesepakatan bisa mencerminkan tekanan domestik dari pihak-pihak dalam pemerintahan Iran yang skeptis akan membaiknya hubungan dengan Barat.

"Kemungkinan besar tenggat waktu itu lebih berkaitan dengan posisi Rouhani di dalam Iran daripada faktor lainnya, karena itu merupakan waktu yang ia miliki sebelum pihak konservatif Iran mulai menanyai dirinya tentang apakah ia telah mampu melakukan sesuatu," tambahnya.

Meskipun pejabat Iran telah membuat isyarat damai berminggu-minggu terhadap Amerika, masih belum jelas, jika ada, usulan konkret yang siap ditawarkan delegasi Iran mengenai program nuklirnya.
XS
SM
MD
LG