Tautan-tautan Akses

Para Pejabat Tinggi AS Berupaya Keras Cegah Serangan Peretas

  • Steve Baragona

Kepala Komando Dunia Maya Amerika, Laksamana Michael Rogers memberikan keterangan di depan Komisi Kongres AS (foto: dok).

Kepala Komando Dunia Maya Amerika, Laksamana Michael Rogers memberikan keterangan di depan Komisi Kongres AS (foto: dok).

Pemilu Amerika tinggal beberapa pekan lagi dan pejabat-pejabat tinggi Amerika berupaya keras mencegah serangan dunia maya setelah terjadi serangkaian peretasan baru-baru ini.

Sejumlah email Komite Nasional Partai Demokrat DNC diretas baru-baru ini. Pelaku meretas sistem pendaftaran pemilih di Illinois dan Arizona. Rusia diduga berada di balik peretasan itu.

Dalam sidang dengar pendapat Komisi Angkatan Bersenjata hari Selasa (13/9), Senator John McCain bertanya-tanya apakah pemilu November mendatang akan menjadi sasaran peretasan berikutnya.

"Apakah mungkin ada skenario di mana para peretas bisa mengacaukan hasil pemungutan suara dalam pemilu mendatang?," tanya McCain.

"Saya kira ada skenario-skenario dimana memang ada kemampuan seperti itu di beberapa bidang tertentu," kata Kepala Komando Dunia Maya Amerika Laksamana Michael Rogers. Rogers mengatakan serangan yang akan sulit dilakukan karena sangat beragamnya prosedur dan perangkat pemungutan suara di 10.000 jurisdiksi di seluruh Amerika.

Petugas-petugas pemilu di negara-negara bagian akan bekerja keras menjaga mesin-mesin pemungutan suara dan daftar pemilih supaya tidak diganggu para peretas dan pemalsu kartu suara tradisional.

Inilah pesan yang menggema dalam dengar pendapat di Capitol Hill. Sekretaris Negara Bagian Louisiana Tom Schedler mengatakan, “Apakah kita prihatin tentang kemungkinan intervensi terhadap sistem pemilu kita? Tentu saja! Tetapi kecurangan pemilu tidak semudah dilakukan seperti yang Anda kira.”

Schedler mengatakan perangkat pemungutan suara di Louisiana tidak pernah menggunakan internet. Kartu-kartu data dibawa ke markas dan proses penghitungan suara dikirimkan lewat sirkuit tertutup, bukan internet.

Tetapi ada cara-cara lain untuk menyerang komputer selain lewat internet. Misalnya ‘’Stuxnet’’ – virus yang merusak fasilitas nuklir Iran, demikian menurut pakar komputer di Universitas Rice, Dan Wallach.

"Fasilitas pemurnian nuklir itu juga dijaga supaya tetap aman. Fasilitas itu tidak tersambung dengan internet. Meskipun demikian virus ‘’Stuxnet’’ berhasil menembusnya,” ujar Wallach​.

Wallach menambahkan, desentralisasi sistem pemilu Amerika hanya memberi perlindungan parsial. “Para peretas tidak perlu menyerang setiap distrik di setiap negara bagian. Mereka cukup menyerang negara-negara bagian berpengaruh di mana serangan kecil bisa menimbulkan dampak besar”.

Tetapi, Schedler mengatakan ancaman terjadinya peretasan itu telah dibesar-besarkan. Meskipun informasi tentang ancaman saja sudah cukup merugikan.

“Laporan-laporan tentang serangan dunia maya telah membuat para pemilih mempertanyakan apakah suara mereka akan benar-benar dihitung. Dan menurut pendapat saya, hal itu jauh lebih merugikan dibanding potensi peretasan itu sendiri,” imbuhnya.

Para pakar mengatakan kertas suara cadangan merupakan perlindungan terbaik dari sabotase. Tiga perempat pemberian suara dalam pemilu tahun ini akan meninggalkan jejak kertas.

Semakin banyak negara bagian yang mempertimbangkan kemungkinan menggunakan cadangan kertas suara. Tetapi hal ini tidak akan siap dalam dua bulan menjelang pemungutan suara November nanti. [em/ds]

XS
SM
MD
LG