Tautan-tautan Akses

AS Belum Tanggapi Anjungan Minyak Baru China di Laut China Selatan


Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika, Jennifer Psaki (foto: dok).

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika, Jennifer Psaki (foto: dok).

AS mengatakan akan bersikap menunggu sebelum memberikan penilaian mengenai lokasi empat anjungan minyak baru China di Laut China Selatan yang disengketakan.

Pemerintah China tampaknya meningkatkan eksplorasi minyak dan gasnya dua bulan setelah menempatkan sebuah anjungan pengeboran besar di perairan yang juga diklaim sebagai wilayah Vietnam.

Beijing hari Jumat (20/6) mengumumkan akan mengirim empat anjungan minyak lagi ke Laut China Selatan. juru bicara Kementerian Luar Negeri, Hua Chunying, mengatakan keempat anjungan minyak itu akan dioperasikan di lepas pantai provinsi Guangdong dan Hainan. Dia merujuk kegiatan itu sebagai "aktivitas normal" dan menambahkan tidak perlu untuk memberikan penafsiran terlalu jauh.

Bulan lalu, China memicu sengketa bilateral dengan negara tetangganya, Vietnam, dengan menempatkan sebuah kilang anjungan minyak di lepas pantai Kepulauan Paracels dan di dalam zona ekonomi eksklusif Vietnam. Hal itu memicu ketegangan bilateral termasuk kerusuhan anti-China di Vietnam, dan konfrontasi antara kapal-kapal China dan Vietnam di dekat anjungan minyak itu. Perundingan tingkat tinggi di Vietnam pekan lalu gagal menyelesaikan sengketa itu.

Jumat, juru bicara Departemen Luar Negeri Jennifer Psaki mengatakan Washington telah mengetahui tentang China yang mengerahkan kilang-kilang minyak tambahan ke beberapa lokasi berbeda di Laut China Selatan.

"Saat ini tidak banyak informasi tentang ke mana keempat anjungan itu akan dibawa. Jika sebuah kilang ditempatkan di perairan yang disengketakan, itu akan jadi kekhawatiran. Dan, Amerika jelas memiliki kepentingan nasional dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan itu. Pada saat ini kami tidak punya informasi yang cukup mengenai lokasi tujuan anjungan-anjungan minyak ini, jadi kami tidak akan memberikan penilaian sampai kami tahu lebih banyak," ujar Psaki.

AS mengkritik penempatan anjungan minyak pertama pada awal bulan Mei di lepas pantai Kepulauan Paracel dan menyebutnya sebagai provokatif dan menimbulkan ketidakstabilan destabilisasi.

China, yang memperebutkan wilayah teritorial di Laut China Selatan dengan Vietnam, Taiwan, Filipina, Malaysia dan Brunei, mengklaim sebagian besar besar perairan itu yang disebutnya sebagai bagian wilayahnya menurut sejarah.

Carl Thayer, profesor pada Universitas New South Wales di Australia, yang baru kembali dari pertemuan mengenai sengketa Laut China Selatan di Vietnam mengatakan dengan semakin banyaknya anjungan minyak yang ditempatkan China, semakin sulit bagi Hanoi untuk memantaunya.

"Empat anjungan minyak akan membuat pasukan paramiliter dan pengawasan perikanan Vietnam kewalahan menjalankan tugas mereka. Vietnam tidak memiliki banyak kapal, mungkin total ada 40 kapal penjaga pantai, dan ukurannya lebih kecil daripada kapal-kapal China. Jadi, tidak akan seimbang jika Vietnam berupaya mengadopsi taktik protes yang sama," kata Thayer.

Thayer mengatakan China telah mengindikasikan kilang anjungan pengeboran minyak yang disengketakan di Paracels adalah unit eksplorasi komersial dan hanya akan beroperasi antara 2 Mei sampai 15 Agustus, sebagian karena terkait dengan musim topan.

Thayer mengatakan setelah 15 Agustus, delegasi tingkat tinggi Vietnam mungkin akan pergi ke Beijing untuk memperbaiki hubungan. Terlepas dari itu, dia mengatakan eksekutif industri energi telah memberitahunya bahwa lokasi anjungan China itu bukan tempat ideal untuk mencari gas.
(Victor Beattie/VOA).
XS
SM
MD
LG