Tautan-tautan Akses

AS Bantu 12 Juta Dolar untuk Selamatkan Harimau Sumatera

  • Iris Gera

Wakil Dubes AS, Kristen Bauer di @America, Jakarta, 2 Oktober 2014 (Foto: VOA/Iris Gera)

Wakil Dubes AS, Kristen Bauer di @America, Jakarta, 2 Oktober 2014 (Foto: VOA/Iris Gera)

Wakil Dubes Amerika Serikat, Kristen Bauer mengatakan bantuan itu merupakan tahap awal karena secara keseluruhan bantuan yang akan diberikan sebesar 70 juta dolar Amerika untuk melestarikan keanekaragaman hayati di Sumetara dan Kalimantan.

Pemerintah Amerika Serikat turut marasa prihatin terhadap keberadaan Harimau Sumatera yang terancam punah. Dalam acara penandatanganan bantuan pemerintah Amerika untuk pemerintah Indonesia, Wakil Dubes Amerika Serikat, Kristen Bauer di Pusat Kebudayaan @america di Jakarta, Rabu malam (2/10) menjelaskan, bantuan sebesar 12 juta dolar Amerika ditujukan untuk melestarikan Harimau Sumatera.

"Penandatangan kesepakatan bantuan Amerika sebesar 12 juta dolar Amerika (ini) untuk melindung keanekaragaman hayati di Sumatera, terutama untuk melestarikan Harimau Sumatera," demikian sambutan Kristen Bauer dalam acara tersebut.

Kristen Bauer menambahkan, bantuan itu merupakan tahap awal karena secara keseluruhan bantuan yang akan diberikan sebesar 70 juta dolar Amerika untuk melestarikan keanekaragaman hayati di Sumetara dan Kalimantan.

Terkait dengan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia, Kristen Bauer juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kebakaran hutan di Indonesia. "Kebakaran hutan di Indonesia merupakan keprihatinan dunia karena mengancam lehidupan manusia dan binatang sehingga dibutuhkan langkah kerjasama berbagai pihak untuk mengatasi kebakaran hutan di Indonesia," ujarnya.

Pada kesempatan sama, Direktur Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Raffles Panjaitan mengakui meski masih mengalami banyak kendala, pemerintah tetap berupaya mengatasi maraknya kebakaran hutan di Indonesia. Ditambahkannya perlu kesadardan bersama terutama masyarakat sekitar kawasan hutan untuk mengubah pola berpikir bahwa menguasai lahan harus dengan cara membakar hutan.

“Animo masyarakat untuk melakukan pertanian semakin meningkat khususnya dengan adanya komoditi sawit maupun kebun, caranya menguasai lahan dengan membakar, nah ini sebenarnya upaya kita upaya pencegahan dan upaya suppressant sudah kita lakukan,” kata Raffles Panjaitan.

Sementara dalam paparannya mengenai upaya melestarikan Harimau Sumatera, Jamal Gawi dari Lauser International Foundation menjelaskan, berbagai kondisi menyebabkan semakin terdesaknya kehidupan Harimau Sumatera. Namun ia menyimpulkan sistem kapitalis menjadi penyebab punahnya berbagai binatang yang seharusnya dilindungi. Ia berharap Harimau Sumatera masih dapat diselamatkan.

“Maraknya berbagai perkebunan terhadap komoditi-komoditi penting yang ada di Sumatera diantaranya adalah sawit, jalan, ini juga musuh besar dari konservasi karena jalan inilah yang akan membuat habitat harimau kita tersisa sedikit-sedikit di tempat-tempat tertentu. Bahkan mereka tidak bisa berhubungan satu sama lain, kalau dibangun dengan tidak hati-hati, global capitalism itu berpengaruh kepada keselamatan harimau yang ada di daerah kita disini, tantangan besar bagi kita semua,” jelas Jamal Gawi dari Lauser International Foundation.

Diperkirakan saat ini hanya tersisa sekitar 500 ekor Harimau Sumatera yang hidup liar di Pulau Sumatera. Sebelumnya Indonesia memiliki tiga spesies harimau, yaitu Harimau Jawa yang punah sekitar tahun 1940, Harimau Bali yang juga punah sekitar tahun 1980 dan spesies Harimau Sumatara yang diperkirakan jika tidak dilestarikan akan punah dalam beberapa tahun mendatang.

XS
SM
MD
LG