Tautan-tautan Akses

AS

AS Bantah Laporan akan Bebaskan Mata-mata Israel


Demonstran Israel sambil membawa foto Jonathan Pollard, menyerukan pembebasan Pollard dalam aksi unjuk rasa di Tel Aviv, 19 Juni 2011 (foto: dok).

Demonstran Israel sambil membawa foto Jonathan Pollard, menyerukan pembebasan Pollard dalam aksi unjuk rasa di Tel Aviv, 19 Juni 2011 (foto: dok).

Sebuah laporan harian the Wall Street Journal Jumat (24/7) mengatakan, beberapa pejabat AS berharap pembebasan mata-mata Israel, Jonathan Pollard, akan memperbaiki hubungan AS-Israel.

Para pejabat AS menyangkal laporan harian The Wall Street Journal (WSJ) yang mengatakan pemerintahan Obama sedang bersiap membebaskan mata-mata Israel Jonathan Pollard lebih awal untuk membantu meredakan ketegangan AS-Israel.

Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Alistair Baskey, mengatakan bahwa, "tidak ada keterkaitan antara status Jonathan Pollard dan pertimbangan kebijakan luar negeri Amerika." Dia menambahkan bahwa status hukuman Pollard akan ditentukan menurut "prosedur standar" hukum Amerika.

Pollard telah menjalani hampir 30 tahun hukuman penjara atas tuduhan melakukan mata-mata untuk Israel dan pembebasan bersyaratnya dijadwalkan jatuh pada bulan November mendatang.

WSJ menerbitkan laporannya hari Jumat (24/7), mengutip para pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Beberapa pejabat tersebut mengatakan bahwa pembebasan Pollard akan memperbaiki hubungan dengan Israel menyusul kesepakatan nuklir Iran.

Laporan WSJ juga mengatakan beberapa pejabat pemerintah AS mendesak agar pembebasan Pollard dilakukan dalam beberapa minggu ini, sementara pejabat lainnya mengatakan pembebasan itu tidak akan terjadi sampai tiba saatnya jadwal pembebasan bersyarat bagi Pollard.

Departemen Kehakiman AS menegaskan dalam sebuah pernyataan hari Jumat (24/7) bahwa "Jonathan Pollard harus menjalani hukuman penuh untuk kejahatan berat yang telah dilakukannya."

Pollard, seorang warga etnis Yahudi Amerika, ditangkap atas tuduhan melakukan mata-mata untuk Israel pada tahun 1985 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Pollard bekerja sebagai analis sipil untuk Angkatan Laut AS pada saat ditangkap, dan ia kemudian mengaku bersalah telah membocorkan ribuan dokumen rahasia kepada Israel.

Pollard mendapat kewarganegaraan Israel ketika menjalani hukuman penjara, dan kasusnya telah lama menjadi penyebab ketegangan hubungan AS-Israel. Pollard yang kini berusia 60 tahun dilaporkan dalam kondisi kesehatan yang buruk di sebuah penjara di negara bagian North Carolina.

Hubungan antara Amerika dan Israel semakin tegang dalam beberapa tahun terakhir. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyuarakan tentangannya yang kuat atas dicapainya kesepakatan nuklir bulan ini antara Iran dengan enam negara kuat dunia, termasuk Amerika Serikat.

Kasus Pollard tidak biasa terjadi, karena ia ditangkap atas tuduhan melakukan mata-mata bagi negara sekutu AS. Para pejabat Israel telah lama memperjuangkan pembebasan Pollard. Netanyahu saat tidak menjabat sebagai Perdana Menteri, pernah mengunjungi Pollard di penjara pada tahun 2002.

Beberapa analis mengatakan tindakan mata-mata oleh Pollard lebih luas dari sekedar bekerja untuk kepentingan Israel. Mantan pejabat intelijen Angkatan Laut AS menuduh bahwa Pollard juga pernah menawarkan dokumen-dokumen rahasia AS kepada tiga negara lainnya, sebelum membocorkannya kepada Israel.

Namun, beberapa pejabat terkemuka AS mengatakan bahwa hukuman penjara seumur hidup bagi Pollard yang telah mengaku bersalah melakukan spionase, sebagai "berlebihan".

Senator dari Arizona John McCain - mantan calon presiden dari Partai Republik pada Pilpres tahun 2008, dua mantan Menlu AS Henry Kissinger dan George Schultz, serta mantan Direktur CIA (Central Intelligence Agency) James Woolsey telah menyerukan agar Pollard dibebaskan.‚Äč

XS
SM
MD
LG