Tautan-tautan Akses

AS

AS akan Terima Pengungsi Australia


Pengungsi mendarat di pulau Manus , Papua Nugini, Agustus 2013.

Pengungsi mendarat di pulau Manus , Papua Nugini, Agustus 2013.

Amerika Serikat telah setuju untuk menerima pengungsi dari Australia yang ditahan di Papua Nugini dan Nauru setelah mereka gagal mencapai Australia dengan perahu.

Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull Minggu (13/11) mengatakan kesepakatan itu merupakan suatu “perjanjian sekali saja” dan tidak akan ditawarkan kembali. Ia mengatakan, “Prioritas kami adalah memukimkam kembali perempuan, anak-anak dan keluarga.”

Para pencari suaka yang berusaha mencapai Australia dengan perahu dikirim ke pusat-pusat tahanan di dua pulau di Pasifik itu. Mereka dilarang tinggal selamanya di Australia, meskipun nantinya terbukti benar-benar pengungsi. Berbagai organisasi HAM mengritik tajam kondisi kehidupan di pulau-pulau itu, di mana sebagian migran menderita selama bertahun-tahun di sana.

Pengungsi yang menolak kesempatan ke Amerika akan ditawari visa 20 tahun untuk tinggal di Nauru.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry, yang sedang melawat ke Selandia Baru, mengukuhkan kesepakatan itu. Ia mengatakan, “Kami akan berupaya melindungi para pengungsi yang rentan di seluruh dunia dan kami akan berbagi tanggung jawab dengan teman-teman kami di kawasan yang paling terimbas oleh masalah ini.”

Belum jelas benar berapa banyak pengungsi yang akan mengikuti program itu atau apakah pemerintahan mendatang presiden terpilih Donald Trump akan menghormati kesepakatan ini.

Trump dikenal karena seruannya bagi moratorium mengenai imigrasi warga Muslim. Associated Press melaporkan, sebagian besar pencari suaka adalah Muslim dari Timur Tengah, Afrika dan Asia.

Hanya imigran yang telah berada di pusat-pusat tahanan yang berhak dimukimkan kembali di Amerika.

Perdana Menteri Turnbull mengatakan pihaknya mengantisipasi para penyelundup manusia yang akan memanfaatkan perjanjian tersebut untuk mengiming-imingi orang-orang untuk menempuh perjalanan laut yang berbahaya. Ia mengatakan Australia telah menempatkan armada pengintai maritim terbesar dan paling cakap untuk menghalau perahu-perahu yang berupaya mencapai Australia dengan penumpang yang ingin ikut dalam kesepakatan dengan Amerika itu. [uh]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG