Tautan-tautan Akses

UE: 3 Negara Pencemar Terbesar Halangi Kesepakatan Pengurangan Emisi

  • Gabe Joselow

Pemimpin delegasi Amerika, Todd Stern berbicara dalam konferensi pers di KTT Iklim PBB di Durban, Afrika Selatan (8/12).

Pemimpin delegasi Amerika, Todd Stern berbicara dalam konferensi pers di KTT Iklim PBB di Durban, Afrika Selatan (8/12).

Uni Eropa mengatakan bahwa tiga negara pencemar terbesar sedunia, Tiongkok, India dan Amerika telah memperlambat laju negosiasi kesepakatan peta jalan menuju kesepakatan pengurangan emisi pada KTT Iklim PBB di Durban, Afrika Selatan.

Waktu hampir habis bagi tercapainya kesepakatan besar untuk mengatasi perubahan iklim pada konferensi iklim PBB di Afrika Selatan. Para pengamat mengatakan negara-negara pencemar terbesar dunia terus menghadang kemajuan atas kesepakatan baru untuk mengurangi emisi.

Delegasi pada konferensi iklim COP17-PBB terus mengupayakan rincian proposal Uni Eropa kearah komitmen global baru untuk memangkas emisi gas rumah kaca. Prosposal Uni Eropa yang disebut "peta jalan" itu akan menetapkan tenggat waktu bagi sebuah kesepakatan baru untuk disepakati menjelang tahun 2015 dan diterapkan tahun 2020.

Sementara waktu tinggal beberapa jam saja untuk berunding, Komisaris Iklim Uni Eropa Connie Hedegaard mengatakan kompromi harus dicapai.

Ia mengatakan, "Kalau tidak ada tindakan lebih lanjut dari apa yang saya lihat sampai pukul 04:00 pagi hari, maka saya harus mengatakan menurut saya tidak akan ada kesepakatan di Durban."

Tapi, ia menambahkan, harapannya masih ada.Lebih lanjut ia mengatakan, "Bukan pertama kalinya dalam pertemuan COP, bahwa pada Kamis malam itu kita tidak mencapai kesepakatan. Jadi itulah sebabnya saya tekankan masih ada waktu untuk bergerak dan saya harus mengatakan sudah banyak diadakan perundingan konstruktif."

Uni Eropa mengeluarkan pernyataan bersama dengan kelompok Least Developed Countries (LDCs) dan Asosiasi Negara-negara Pulau Kecil, yang mendukung peta jalan Eropa dan menghimbau langkah yang lebih ambisius dari negara-negara lainnya.

Alden Meyer dari organisasi Perhimpunan Ilmuwan - Union of Concerned Scientists mengatakan kemajuan dan pernyataan serupa dari negara lain akan mendukung, tetapi diperlukan ambisi yang lebih besar. "Semua tampaknya mungkin hari ini, tapi belum terjadi. Kita harus bekerja lebih keras untuk menyelesaikannya. Tapi di atas meja kita melihat gerakan, perkembangan yang saya bicarakan dengan koalisi negara-negara pulau kecil dan LDC dan gerakan dari Afrika Selatan dan Brasil, membesarkan hati. Tetapi tanpa Amerika, Tiongkok dan India, mereka saja tidak cukup," kata Meyer.

Uni Eropa mengisyaratkan bahwa tiga negara pencemar terbesar sedunia, Tiongkok, India dan Amerika telah memperlambat laju negosiasi kesepakatan peta jalan menuju kesepakatan pada masa depan.

Hedegaard mengatakan isu paling besar adalah seperti apa bentuk hukum kesepakatan akhir dan apakah akan ada pengaturan dua jalur agar beberapa negara terikat secara hukum sementara lainnya berkomitmen pada pengurangan emisi secara sukarela.

Negosiasi lainnya adalah melanjutkan proposal untuk menyediakan pendanaan jangka panjang sebesar 100 miliar dolar bagi negara-negara berkembang untuk proyek-proyek lingkungan hidup. Sejauh ini para delegasi hanya baru memulai memilah-milah persyaratan kesepakatan, tanpa kemajuan yang dilaporkan tentang cara pasti untuk mendanainya.

XS
SM
MD
LG