Tautan-tautan Akses

24 Provinsi di Indonesia Masih Belum Bebas Rabies

  • Muliarta

Petugas kesehatan hewan mempersiapkan vaksin untuk menyuntik anjing dalam kampanye hari rabies sedunia di Denpasar, Bali (28/9).

Petugas kesehatan hewan mempersiapkan vaksin untuk menyuntik anjing dalam kampanye hari rabies sedunia di Denpasar, Bali (28/9).

Saat ini 24 provinsi di Indonesia tercatat sebagai Endemis Rabies, dan sedikitnya diperlukan 6000 dokter hewan di Indonesia untuk pencapaian target bebas rabies.

Kementerian Pertanian melaporkan hingga saat ini tercatat 24 provinsi di Indonesia masih masuk dalam kategori daerah endemis rabies. Provinsi yang masuk dalam kategori daerah endemis rabies diantaranya Sumatra Utara, Lampung dan Bali. Tercatat hanya 5 daerah di Indonesia yang hingga kini telah dinyatakan bebas rabies, diantaranya Nusa Tenggara Barat, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Papua dan Papua Barat.

Masih banyaknya daerah di Indonesia yang berstatus endemis rabies, kini menjadi tantangan bagi pencapaian target Indonesia bebas rabies pada 2020. Hal tersebut disampaikan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian Prabowo Respatiyo Catorroso di sela-sela peringatan Hari Rabies Se-dunia di Denpasar Bali pada Rabu siang.

Menurut Prabowo, guna penanggulangan rabies pemerintah telah mengalokasikan dana mencapai 15 Miliar rupiah untuk tahun 2012. Namun penanggulangan rabies di lapangan kini masih mengalami kendala dengan keterbatasan dokter hewan yang tersedia.

Indonesia saat ini diprediksikan membutuhkan 6000 dokter hewan. “Kita tahu di Indonesia ada ribuan pulau yang terhampar. Diharapkan setiap pulau ada dokter hewannya, jadi nanti ada penyakit yang berpindah-pindah interinsuler. Jadi harus ada sistim keamanan di setiap pulau. Kondisi idealnya bisa lebih dari 20 ribu dokter hewan”, demikian penuturan Prabowo Respatiyo.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Bali Putu Sumantra berencana akan melakukan kontrol terhadap populasi anjing liar di Bali sebagai salah satu cara penanggulangan penyebaran penyakit rabies.

Menurut rencana control populasi salah satunya dilakukan dengan sterilisasi induk anjing liar. “Terhadap anjing-anjing itu, kita lakukan beberapa langkah yaitu ada langkah sterilisasi. sterilisasi ini ada dua pola yang kita gunakan baik melalui mekanik atau sel telurnya itu di inaktifkan atau dengan hormon seperti pil KB”, ujar Kadin Peternakan Bali, Putu Sumantra.

Direktur Operasional Yayasan Yudistira Drh Wayan Mudiarta mengakui tingginya populasi anjing liar menjadi salah satu kendala dalam penanggulangan rabies di Bali, belum lagi anjing liar tidak tersentuh vaksinasi.

“Itu saya rasa bener-bener liar, karena hidupnya disemak-semak. Mungkin awal mulanya dari anjing yang terbuang, terus akhirnya berkembang dengan bebas, liar, tanpa pernah disentuh oleh manusia. Jadi hidupmuya di semak-semak dan sulit di jangkau”, kata dokter hewan Wayan Mudiarta.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bali pada tahun ini tercatat 19 orang telah meninggal setelah digigit anjing di Bali. Sedangkan pada tahun lalu jumlah korban meninggal mencapai 82 orang.

XS
SM
MD
LG