Tautan-tautan Akses

Aparat Jawa Timur Siaga Menghadapi Potensi Teror Jelang Natal dan Tahun Baru

  • Petrus Riski

Pejabat Walikota Surabaya Nur Wiyatno memeriksa petugas Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang akan ikut membantu pengamanan Natal dan Tahun Baru di halaman Balai Kota, Selasa, 22 Desember 2015. (VOA/Petrus Riski)

Pejabat Walikota Surabaya Nur Wiyatno memeriksa petugas Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang akan ikut membantu pengamanan Natal dan Tahun Baru di halaman Balai Kota, Selasa, 22 Desember 2015. (VOA/Petrus Riski)

Penangkapan empat orang yang diduga anggota jaringan teroris di Mojokerto dan Gresik, Jawa Timur oleh Densus 88 Antiteror Sabtu (19/12) lalu, disikapi pemerintah dan aparat kepolisian di Jawa Timur dengan meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman teror menjelang Natal dan Tahun Baru.

Kepolisian Daerah Jawa Timur menyiagakan ribuan personil polisi untuk mengamankan peringatan hari besar Natal dan Tahun Baru, sebagai antisipasi ancaman teror yang terjadi di Indonesia beberapa hari terakhir. Penggerebekan dan penangkapan terduga teroris di Mojokerto dan Gresik, Jawa Timur, menurut Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono, merupakan langkah pencegahan terhadap gangguan keamanan yang dilakukan oleh Markas Besar Kepolisian.

Argo Yuwono menghimbau warga masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap perilaku maupun tanda-tanda mencurigakan yang dapat mengancam keselamatan serta keamanan masyarakat. Semua daerah dinilai memiliki tingkat kerawanan yang sama, sehingga diperlukan pengamanan yang lebih ketat.

"Ini belum tahu, karena itu langsung informasi dari Mabes datang, langsung melakukan tindakan itu, penggerebekan. Ya kepada masyarakat yang melihat tetangga atau samping rumah, atau apa yang mencurigakan dan tidak dikenal bisa disampaikan kepada aparat kepolisian maupun aparat pemerintahan," kata Argo.

Sementara itu aktivis "GusDurian" yang juga pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Ahmad Zainul Hamdi, mengatakan penangkapan di Jawa Timur itu menunjukkan tidak ada satu daerah pun di Indonesia yang tidak lepas dari teror. Gerakan dan ancaman teror di tengah masyarakat merupakan upaya kelompok radikal itu untuk menunjukkan keberadaannya yang siap memecah belah masyarakat dan menimbulkan ketakutan.

"Momentum seperti ini, itu juga mereka bisa gunakan sebagai memproklamasikan diri mereka bahwa kami ini ada, kami ini eksis, sekali pun kami sudah dikejar-kejar kami itu ada, itu juga bisa menjadi dari motif mereka. Nah motif yang lain itu jadi adalah pembalasan," kata Ahmad.

Ahmad Zainul Hamdi yang juga aktivis muda Nahdlatul Ulama mengatakan, persatuan antar tokoh agama dan pemuka masyarakat sangat diperlukan untuk menangkal gerakan dan penyusupan kelompok teroris di tengah masyarakat. Menurut Ahmad Zainul Hamdi, aksi teror saat ini harus dilihat sebagai upaya menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan, bukan lagi sebagai gerakan ideologi agama tertentu.

"Bagi tokoh-tokoh agama yang berada di luar kelompok radikal ini, itu harus semakin mendekatkan diri satu sama lain, tidak memperbesar kecurigaan tapi justru memperkuat kerjasama, untuk memastikan bahwa apa pun agamanya terorisme adalah terorisme, terorisme itu menghancurkan kemanusiaan, itu dia bertentangan dengan nilai-nilai keadaban, siapa pun. Jadi urusan terorisme itu tidak lagi urusan tentang agama apa, tapi ini adalah perang terhadap nilai-nilai keadaban manusia," tambah Ahmad.

Peningkatan kewaspadaan terhadap gangguan keamanan juga diserukan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. Meski polisi masih menganggap Jawa Timur masih kondusif, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan dan upaya menjaga keamanan di lingkungan masing-masing, terutama dalam memperingati hari natal dan pergantian tahun.

"Menurut pak polisi, prinsipnya sebetulnya stabil tapi kita tidak mengurangi kewaspadaan, kultur kita yang saling menghargai itu, justru yang harus kita lakukan adalah keberlibihan itu jangan sampai, sederhana saja untuk Tahun Baru dan Natal."

Dalam perkembangan lainnya Pejabat Walikota Surabaya, Nur Wiyatno juga telah menggelar apel kesiagaan di halaman Balai Kota Surabaya, guna meningkatkan koordinasi serta kesigapan aparat di tingkat bawah untuk mengantisipasi gangguan keamanan menjelang akhir tahun ini.

“Kita melalui FKUB, melalui Dewan Masjid, melalui lembaga-lembaga yang lain termasuk Camat dan sudah kita rapatkan dengan Forpimda (forum pimpinan daerah), bahwa itu sudah diantisipasi oleh teman-teman keamanan, Kapolrestabes dan Danrem, kita akan support dengan lingkungan kita semua. Saya minta mereka tetap dan lebih mengamati di lingkungan masing-masing, sehingga kalau ada hal-hal yang sekiranya itu bisa mengganggu ketertiban masyarakat saya minta segera dikoordinasikan dengan kepolisian dan TNI setempat," kata Nur Wiyatno. [pr/em]

XS
SM
MD
LG