Tautan-tautan Akses

Apakah Respon Barat Terhadap ISIS Memadai?

  • Henry Ridgwell

Proses perekrutan pejuang ISIS di Haditha, barat laut Baghdad, Irak (25/8).

Proses perekrutan pejuang ISIS di Haditha, barat laut Baghdad, Irak (25/8).

Ada peningkatan ketidakpastian mengenai apakah respon Barat terhadap ISIS akan cukup untuk mengalahkan ancaman teroris.

Presiden AS Barack Obama telah menghapus opsi mengirimkan pasukan darat ke Irak untuk memerangi militan Negara Islam atau ISIS, meski para pejabat di Washington menggambarkan kelompok ekstremis itu sebagai ancaman terbesar yang dihadapi Amerika dalam beberapa tahun terakhir.

Ada peningkatan ketidakpastian mengenai apakah respon Barat terhadap ISIS akan cukup untuk mengalahkan ancaman teroris.

Hanya dalam dua tahun, ISIS telah berubah dari koalisi lepas dari kelompok-kelompok pemberontak Islamis menjadi kekuatan militer tangguh yang mengontrol wilayah yang luas di Suriah dan Irak.

Respon Amerika sejauh ini terbatas pada serangan udara yang diluncurkan dari sebuah pesawat di Teluk Persia. Hal itu tidak cukup mengalahkan para teroris itu, ujar Thomas Hegghammer, direktur riset terorisme di Pusat Riset Pertahanan Norwegia di Oslo.

"Serangan udara saja tidak memadai. Itu mungkin hanya mengacak-acak sarang mereka saja," ujar Hegghammer.

Berbicara Selasa, Presiden Obama lagi-lagi menolak menaruh pasukan Amerika di lapangan di Irak.

"Kita tidak akan memungkinkan Amerika Serikat terseret dalam perang di Irak. Karena pada akhirnya tergantung pada Irak untuk menjembatani perbedaan dan menyelamatkan diri mereka," ujarnya.

Ada elemen permainan dalam strategi diplomatik antara Barat dan Irak, ujar Hegghammer.

“Kecenderungannya untuk negara-negara lokal adalah untuk menunggu negara besar seperti AS untuk masuk dan terlibat dalam hal biaya dan sumber daya manusia. Tantangannya adalah untuk menghindari hal itu, untuk membuat aktor-aktor lokal lebih terlibat untuk mengambil porsi lebih besar dari biaya-biaya tersebut," ujarnya.

Kelambanan bertindak saat ini memperkuat ISIS, ujar Shiraz Maher dari Pusat Studi Radikalisasi Internasional di Kings College London.

“Pada saat ini, tidak ada momentum atau keinginan untuk bertempur di Suriah dan Irak. Tanpa hal itu, sayangnya, sepertinya mustahil untuk melawan ISIS," ujarnya.

"Tentara-tentara Suriah dan irak tidak mampu melakukannya, tidak ada kekuatan Arab yang akan melakukannya bahkan jika mereka mampu, dan itulah yang membuat ISIS merupakan ancaman mematikan."

Tindakan-tindakan oleh ISIS - termasuk pembantaian minoritas Kristiani dan Yazidi serta pemenggalan jurnalis AS James Foley - terlihat seperti dirancang untuk memprovokasi Barat, ujar Hegghammer.

“ISIS mungkin ingin intervensi Barat skala menengah di Irak, yang cukup besar untuk memberikan kredibilitas politik bagi ISIS dan membantu mereka dalam perekrutan, tapi tidak sebegitu kuatnya sampai melemahkan kekuatan militer mereka."

Di lapangan di Irak utara, pasukan-pasukan Kurdi telah berada di garis depan dalam melawan ISIS. beberapa negara Barat telah menawari mereka senjata. Hal itu memberikan mereka kemampuan untuk melawan ISIS, ujar perwakilan pemerintah regional Kurdistan di London, Bayan Sami Abdul Rahman.

“Kami tidak menyerukan datangnya pasukan. Kami memiliki pasukan sendiri, kami mempunyai Peshmerga (pasukan bersenjata Kurdi)," ujarnya.

"Namun kami meminta lebih banyak bantuan, terutama lebih banyak serangan udara, senjata untuk Peshmerga, bantuan logistik dan informasi intelijen."

XS
SM
MD
LG