Tautan-tautan Akses

Antisipasi Terjadinya Teror, Indonesia Tingkatkan Keamanan di 14 Propinsi

  • Fathiyah Wardah

Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj. (Foto: dok.)

Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj. (Foto: dok.)

Mengantisipasi terjadinya aksi teror menjelang Natal dan Tahun Baru, pemerintah Indonesia meningkatkan keamanan di 14 propinsi, terutama di daerah konflik mudah meletus. Aparat keamanan bahkan melakukan patroli hingga ke perbatasan dan pulau-pulau terluar Indonesia.

Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadinya aksi teror di Indonesia. Kembalinya ratusan simpatisan ISIS dari Suriah dan pemulangan puluhan TKI tanpa dokumen dari Malaysia menjelang akhir tahun ini membuat aparat meningkatkan keamanan di seluruh Indonesia, terutama di 14 propinsi dimana konflik mudah meletus. Ke-14 daerah itu antara lain: Nusa Tenggara Barat, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan, Aceh, Palembang dan Lampung. Wawan Purwanto yang merupakan anggota tim ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kepada VOA Jum'at lalu (11/12).

"Untuk antisipasi di wilayah-wilayah tersebut sangat dijaga ketat karena pelindungan publik penting sekali. Pencegahan terus dilakukan, pendekatan terhadap pemuka-pemuka agama, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat. Upaya pengaman wilayah pembelajaan, agama, tempat hiburan, ibadah terus dilakukan," kata Wawan.

Menurutnya BNPT misalnya mewaspadai pemulangan 63 tenaga kerja Indonesia dari negara lain terutama Malaysia karena alasan tidak memiliki dokumen. Dikhawatirkan mereka yang sudah teradikalisasi dan berniat melakukan aksi teror di Indonesia, menyusup di antara TKI ilegal tersebut. Ini belum termasuk mereka yang masuk ke Indonesia melalui jalur ilegal di perbatasan.

Belajar dari aksi-aksi teroris yang pernah terjadi di Indonesia antara tahun 2004–2009, gembong teroris asal Malaysia Noordin M. Top dan Dr. Azhari bisa masuk ke Indonesia dengan menggunakan jalur-jalur ilegal di daerah perbatasan atau jalur tikus yang penjagaannya sangat minim. Jalur ini juga dipergunakan untuk menyelundupkan senjata. Umumnya bekas daerah-daerah konflik menjadi sasarannya.

"Di daerah konflik untuk memicu kembali perseteruan dan dendam di masa lama. Poso bertahan, kalau di Aceh tidak karena masyarakatnya sudah capek perang terus. Ketika Poso dikepung, mereka bergeser basisnya di Bima. Daerah-daerah konflik menjadi perhatian khusus," kata Wawan.

Ditambahkannya, pemerintah juga mendekati masyarakat di daerah-daerah tersebut agar tidak mudah terprovokasi.

Sebelumnya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama Said Aqil Siradj menegaskan orang yang terlibat dalam kelompok-kelompok radikal di dalam dan luar negeri, termasuk ISIS, dikarenakan tidak memahami Islam secara benar.

"Karena dalam Al Quran dilarang ada kekerasan, tidak boleh ada kekerasan dalam menyebarkan agama jadi kalau ada kekerasan itu bukan menyebarkan agama karena ada kekerasan," kata Said.

Selain meningkatkan keamanan di 14 daerah tersebut, aparat keamanan juga menambah patroli dan alutsista, radar serta pesawat tanpa awak di daerah-daerah perbatasan, khususnya pulau-pulau terluar yang kerap menjadi jalur masuk ke Indonesia. [fw/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG