Tautan-tautan Akses

Antisipasi Kerusuhan Lanjutan, Aparat Kemanan Tetap Siaga di Nabire


Polisi berjaga di luar Gelanggang Olah Raga Kota Lama, Nabire, provinsi Nabire, pasca insiden kerusuhan pertandingan tinju yang menewaskan 17 orang (15/7).

Polisi berjaga di luar Gelanggang Olah Raga Kota Lama, Nabire, provinsi Nabire, pasca insiden kerusuhan pertandingan tinju yang menewaskan 17 orang (15/7).

Aparat keamanan terus berjaga-jaga di Nabire menyusul kerusuhan pertandingan tinju di Nabire Papua yang menewaskan 17 orang, Minggu (14/7).

Kerusuhan final pertandingan tinju dalam rangka memperebutkan Piala Bupati Nabire di Gelanggang Olah Raga Kota Lama Nabire Minggu (14/7) yang menewaskan 17 orang, membuat aparat keamanan Polri dan TNI terus melakukan penjagaan keamanan di wilayah Nabire.

Menteri Koordinator bidang politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto kepada VOA menjelaskan penjagaan aparat keamanan itu dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kejadian lanjutan.

"Kita tidak menerapkan status siaga satu. Bahwa aparat bersiaga iya. Siapa tau ada ekses-ekses lanjutan begitu 'kan. Itu harus. Dimana saja tidak harus di Nabire. Kalau ada kejadian, aparat keamanan harus antisipasi," jelas Djoko Suyanto. "Tapi alhamdulillah sampai saat ini tidak ada ekses lanjutan. Karena memang penyebabnya hanya karena murni kecelakaan gitu. Di dalam gedung orang berebut keluar kemudian terinjak-injak," lanjutnya.

Sementara itu, Kepolisian Daerah Papua menduga peristiwa itu muncul setelah dipicu oleh permintaan dari Bupati Nabire Papua saat pertandingan, agar panitia membebaskan calon penonton dari tiket masuk. Juru Bicara Polda Papua Komisari Besar I Gede Sumerta Jaya memastikan kepolisian selain memeriksa pihak panitia dan penonton, juga akan memeriksa Bupati Nabire sebagai saksi.

"Jumlah pengamanan saat itu memang mencukupi. Polri 60 personil, TNI 25 personil. Tapi karena ada imbauan atau perintah, ataupun suruhan dari pak Bupati yah kita terbuka saja.. pak Bupati meminta (panitia) membuka pintu (masuk) tersebut tidak perlu menggunakan karcis, itulah yang membuat penonton membludak. (Bupati Nabire) Nanti kita akan minta keterangan juga, tapi setelah kita minta keterangan saksi-saksi apakah betul ada suruhan (dari Bupati) seperti itu," kata I Gde Sumerta

I Gede Sumerta Jaya menambahkan, selain masalah kepadatan dari jumlah penonton, dari keterangan para saksi, kerusuhan dipicu oleh ketidak puasan dari penonton pendukung pihak yang kalah dalam pertandingan tinju itu.

"Bentrokan supporter awal mulanya yah. Jadi dari salah satu sasana petinju ini kalah. Kemudian pada saat mau pemberian hadiah, pihak yang kalah marah. Mereka ngamuk dan melempar kursi dan botol. Kejadian itu membuat penonton panik dan berhamburan keluar. Ini yang menyebabkan saling injak, saling desak dan saling dorong, ini yang menyebabkan timbulnya banyak korban. Sementara kapasitas dari Gelanggang Olah Raga itu dibawah seribu orang, tapi yang masuk seribu lebih," jelas I Gede Sumerta Jaya.

Sementara itu, Indonesian Police Watch (IPW) meminta Kepala Polda Papua Inspektur Jendral Tito Karnavian dan Kapolres Nabire AKBP Bahara Marpaung harus bertanggung jawab atas terjadinya kerusuhan dalam pertandingan tinju itu. Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menegaskan, kinerja Kapolda Papua harus dievaluasi dalam kejadian ini.

"Kita menghimbau kepada Kapolri untuk event-event di Papua kedepannya sebaiknya di evaluasi secara detail, baru kemudian diizinkan penyelenggaraannya. Kita juga mendesak supaya Kapolri segera mencopot Kapolres Nabire dan Kapolda Papua. Kita melihat kinerja Kapolda Papua harus dievaluasi," kata Neta S Pane

Bentrokan dalam pertandingan tinju di Nabire Minggu malam (14/7) itu berawal saat kejuaraan ini dimenangkan Alfius Rumkorem dari Sasana Persada mengalahkan Yulianus Pigome dari Sasana Mawa. Pendukung Yulianus Pigome tidak dapat menerima kekalahan tersebut, dan memicu saling ejek di antara pendukung kedua kubu petinju yang berujung perkelahian saat penyerahan hadiah. Para penonton yang panik, berebut keluar gedung.

Akibat kejadian itu 17 orang tewas, 11 orang diantaranya perempuan dan enam orang lainnya laki-laki. Sebagian besar tewas terinjak-injak akibat berebut keluar dari Gelanggang Olah Raga. Sementara yang terluka sekitar 38 orang, 14 sudah dipulangkan, dan 24 orang masih dirawat.
XS
SM
MD
LG