Tautan-tautan Akses

Antobodi Super Tawarkan Pengobatan HIV


Seorang dokter mengambil darah untuk mengecek HIV/AIDS di unit pemeriksaan di pinggiran ibukota Uganda, Kampala, 16 Mei 2014.

Seorang dokter mengambil darah untuk mengecek HIV/AIDS di unit pemeriksaan di pinggiran ibukota Uganda, Kampala, 16 Mei 2014.

Para ilmuwan telah mengisolasi antibodi HIV yang kuat, protein penguat sistem kekebalan tubuh yang secara khusus menyerang virus itu, sehingga berpotensi untuk mencegah atau bahkan menghancurkan virus penyebab AIDS.

Antibodi yang kuat dan menetralisir itu diproduksi oleh sekelompok kecil pengidap HIV positif yang berhasil bertahan hidup selama beberapa dasawarsa tanpa minum obat-obatan antiretroviral.

Para ilmuwan telah mengumpulkan antibodi super yang bisa mengidentifikasi dan melumpuhkan berbagai jenis HIV. Mereka kemudian memproduksinya secara massal agar bisa diberikan kepada para pasien HIV lain.

Dengan menggunakan teknologi terbaru untuk mengambil dan melipatgandakan antibodi yang paling kuat, para periset menguji coba protein yang menetralisir itu pada 13 orang. Seluruh peserta telah mengonsumsi obat-obatan antiretroviral sejak lama.

Antiretroviral memang bisa menekan HIV, tetapi tidak membunuh beberapa sel tertentu yang menyimpan virus itu. Ini artinya virus itu bisa bangkit kembali apabila obat-obatan dihentikan.

Menulis dalam jurnal Nature, para periset mengatakan orang-orang yang tidak diberikan antibodi baru bernama 3BNC117 itu, virusnya bangkit kembali dalam 2,5 minggu. Mereka yang mendapatkan antibodi itu, virusnya bangkit lebih lama yaitu hampir 10 minggu dalam beberapa kasus.

Penulis studi Michel Nussenzweig dari Universitas Rockefeller di New York mengatakan suatu hari nanti 3BNC117 mungkin mampu memberantas virus penyebab AIDS.

“Orang-orang sejak dulu beranggapan bahwa salah satu strategi penyembuhan adalah dengan melakukan sesuatu bernama “kick and kill.” Yaitu mengaktifkan virus yang tersimpan dalam suatu sel, dan menggunakan agen seperti antibodi, yang bisa mengidentifikasi sel-sel yang aktif yang mulai memproduksi virus dan kemudian membunuhnya,” ujarnya.

Nussenzweig dan para koleganya ingin bereksperimen menggunakan obat kanker yang bisa mengungkap virus yang bersembunyi dalam sel-sel penyimpanan, dan kemudian membunuhnya dengan 3BNC117.

Salah satu kelebihan dari antibodi itu adalah tidak ada efek samping, menurut Nussenzweig.

“Antibodi itu berasal dari tubuh manusia dan tidak dimodifikasi sama sekali. Jadi itu merupakan produk yang sangat alami dan tanpa efek samping. Bahkan sekelompok kecil pasien yang menerimanya sejauh ini tidak melaporkan masalah yang siginifikan,” tambahnya.

Nussenzweig mengatakan uji coba klinis berskala besar sedang berlangsung di Afrika dengan menggunakan antibodi penetralisir berbeda namun mirip. Uji coba itu bertujuan untuk mempelajari apakah pemberian protein itu bisa melindungi perempuan yang berisiko terinfeksi. [vm/al]

XS
SM
MD
LG